Apresiasi Pementasan Drama Monumen

11:18 AM


RESENSI DRAMA MONUMEN
http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/

               Apresiasi drama adalah suatu upaya untuk menilai baik dan buruk dari suatu karya sastra berupa drama dengan objektif. Karya sastra yang berwujud drama memiliki satu ciri khas yang tidak dimiliki karya sastra jenis lain, yaitu pementasan. Sebelumnya, Artikel Kami telah mengapresiasi pementasan drama padang bulan. Sama halnya dengan karya sastra lain, mengapresiasi suatu lakon drama pasti tidak akan terlepas dari unsur intrinsik, unsur kultural, dan unsur psikologis dalam drama.


            Cerita diawali dengan obrolan antar patung yang terpatri pada sebuah monumen. Monumen itu didirikan untuk mengenang jasa pahlawan  yang pada masa penjajahan Belanda, gugur dalam pertempuran di kota itu. Monumen itu dalam keadaan terlantar, tak terawat. Bahkan pada salah satu patung terdapat sebuah sampah yang melekat di wajahnya. Para patung kerap kali mengolok-olok patung yang paling tidak terawat itu. Para lakon yang memerankan patung terkesan kurang sedikit kaku dalam memerankan pergerakan patung. Kostum yang ada kurang mendukung dengan latar sekitarnya. Di lingkungan yang terkesan kumuh tapi memakai baju putih bersih.

Baca Juga : Apresiasi Pementasan Drama Koran

            Adegan selanjutnya,  muncul tokoh Yu Seblak, Karep, Kalur, dan Ajeng. Mereka sama-sama membicarakan tentang kehidupan mereka. Yu Seblak dan Ajeng yang notabene adalah seorang tuna susila dilakonkan dengan kurang “genit” oleh pemain. Sementara Kalur dan Karep tidak didukung  oleh properti pakaian yang mencerminkan kehidupan mayarakat kumuh dan kotor. Kemudian cerita berlanjut, seorang petugas  muncul dan merencanakan memugar monumen itu. Yu Seblak dkk, gelisah, karena terancam terusir dari kompleks monumen yang sudah mereka tinggali sejak lama. Namun sebaliknya, para pahlawan yang dipatungkan itu, justru berdebat. Untuk merealisasikan pemugaran dan usulan perubahan status menjadi pahlawan nasional, karena hanya ada dua dari lima patung itu yang akan  dipugar dan dijadikan pahlawan nasional.  Dalam adegan kejar-kejaran antara pencopet dan satpam diiringi oleh bunyi tabuhan. Pencahayaan seharusnya diubah menjadi lampu merah, karena  dalam adegan ini seharusnya menjadi sebuah adegan yang cukup menegangkan.

            Adegan dalam pertikaian antara Yu Seblak dkk. Dan petugas penggusur monumen itu terkesan anarkis dan tidak terkontrol. Pemain melempar segala sesuatu yang ada di panggung ke penonton. Para lakon seharusnya dapat menciptakan sesuatu yang menegangkan, dengan berteriak lebih keras dan melakukan gesture seperti orang yang hendak bertarung. Lighting dalam adegan ini sudah mengakomodasi keperluan adegan pertengakaran ini. Akhir cerita ditutup dengan tewasnya Yu Seblak dkk dan para patung yang sudah dirobohkan. Sense dari akhir cerita yang menyedihkan ini dibubumbui oleh musik yang lembut dan dapat menggiring penonton untuk merasakan kesedihan karena dirobohkannya monumen pahawan tersebut.
Previous
Next Post »
0 Komentar