Apresiasi Pementasan Drama Padang Bulan

10:40 AM


http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/

 Resensi Drama Padang Bulan

          Apresiasi drama, tidak berbeda dengan apresiasi karya sastra yang lain, baik itu berupa analisis unsur intrinsik, analisis unsur kultural maupun analisis unsur psikologis semuanya berpegang pada satu prinsip dasar, yaitu penilaian yang sebenar-benarnya mengenai pengalaman membaca dan melihat terhadap suatu karya sastra.
          
        Pementasan drama ini diawali oleh pembacaan puisi oleh dua orang perempuan dan pembacan puisi ini dilengkapi oleh sejumah instrumen musik yang mendukung  terciptanya suasana dan tersampaikannya pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara. Satu perempuan membacakan puisi yang mewakili sisi yang mencintai budaya negeri Indonesia dan  perempuan yang satu berpihak pada modernitas karena dia menganggap Indonesia harus mengikuti arus globalisasi sehingga Indonesia tidak menjadi kuper  dalam pergaulan internasional.  Setelah selesai  membacakan puisi, adegan pertama dimulai  dengan munculnya tiga anak kecil yang sedang bermain permainan anak-anak dengan hukuman bagi yang kalah untuk menari. Tetapi, dalam pementasan drama ini justru ketiga anak kecil itu yang menari bersama. Kostum yang digunakan pelakon peran anak-anak seharusnya dipertegas dengan penambahan aksesoris seperti permen, dsb. Satu hal yang patut dicermati adalah munculnya wanita yang memihak pada pelestarian budaya indonesia dalam adegan sebelumnya. Sutradara secara implisit ingin menyampaikan pesan bahwa apa yang dilakukan anak kecil itu melambangkan kebersamaan khas ala Indonesia. Setelah itu, ketika anak-anak itu sedang bermain, muncul pasangan kakek nenek yang mengajak anak-anak untuk duduk bersama dan bercerita sesuatu yang menarik dan ketika nenek hendak menceritakan sesuatu, lampu padam.

Baca Juga : Apresiasi Pementasan Drama Monumen
                 Apresiasi Pementasan Drama Koran 

            Adegan selanjutnya menceritakan tentang seorang anak kecil yang menginginkan hdup di perkotaan. Lalu, muncul seorang politikus yang merasa risih dengan anak itu dan meminta petugas keamanan untuk mengusirnya. Kemudian seorang nenek muncul dan menolong anak itu, dan menjelaskan bahwa sebenarnya rumah anak itu bukan di kota tetpi ada di desa. Cerita dalam cerita yang ada dalam  drama ini sebenarnya menuntut jumlah pemain yang banyak. Kelompok mencoba mengakali dengan memberikan peran ganda kepada satu pemain, tetapi hal ini justru akan membingungkan audiens guna memahami peran yang dilakonkan setiap pemain. Pergantian adegan juga tidak diikuti dengan pergantian latar yang dilakonkan. Properti yang tersedia sebenarnya kurang mendukung isi cerita drama  padang bulan ini. Begitu pula dengan pembawaan karakter tokoh yang masih kental dengan sifat dewasanya pada saat membawakan peran anak-anak. 
 
            Adegan berikutnya kembali berfokus pada permainan anak-anak. Seorang anak kemudian tertidur dan seolah-olah bermimpi tentang dua temannya yang lain. Tetapi, dua temannya itu bersikap aneh dan tengah asik dengan permainan masing-masing dan tidak menghiraukan ajakan temannya. Kemudian lampu padam, setelah itu muncul dua pembaca puisi membacakan puisinya. Namun, berbeda dengan adegan pertama tadi, kali ini kedua pembaca puisi mengamini pentingnya mencintai budaya sendiri dan tidak terpengaruh oleh pengaruh asing. Drama ini mencoba menyampaikan sebuah pesan penting bahwa dalam arus globalisasi yang demiikia deras, Indonesia harus mempunyai kkarakter tersendiri di mata dunia, yaitu dengan tidak menanggalkan nilai-nilai luhur kebudayaan yang telah lama ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pencahayaan dari drama ini memberikan efek yang sesuai dengan isi drama, yaitu alur flashback.
Previous
Next Post »
0 Komentar