Aufklarung, Rasionalitas, Dan Restorasi

11:57 AM
http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/


Awalnya, pintu masuk menuju fase baru kehidupan manusia baru dibuka pada awal abad ke-5 yang diitandai dengan terjadinya krisis monumental yang menggiring umat manusia pada zaman itu guna mencari sebuah semangat pencerahan. Pencarian sebuah semangat pencerahan yang terjadi pada masa itu memberikan peluang untuk melakukan demitologisasi terhadap sebuah realitas dan sekaligus membawa manusia ke dalamnya. Pencerahan ini membuat manusia mampu menjelajah realitas secara bebas dengan cara yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Hal ini merupakan suatu bentuk pemberontakan manusia terhadap Tuhan sebagai penguasa alam. Manusia haruslah berani berpikir sendiri! Semboyan ini berdengung keras pada abad 18. Dalam sejarah dunia barat periode ini dikenal sebagai zaman Aufklarung, zaman ketika manusia begitu memuja-muja rasionalitas akalnya. Manusia menjadikan Aufklarung sebagai sebuah pencerahan yang mereka pernah cari jauh berabad-abad sebelumnya.


Kemunculan Aufklarung: Pendewaan Rasionalitas

Peristiwa tersebut boleh jadi dikatakan sebagai masa becerainya sastra dengan agama.  Ironis sekali, karena satu abad sebelum fenomena Aufklarung muncul ,sastra dan agama telah melakukan perdamaian. Sastra memandang agama bukan lagi kompetitor di bidang kebenaran oleh filsafat dan justru sastra seringkali membantu manusia memahami kebenaran dalam agama. Kedua aspek fundamental manusia ini sama-sama mengandaikan sebuah rasionalitas yang sama. Namun, karena hal itu juga yang menyebabkan timbulnya perselisihan baru antara agama dan sastra. Tak hanya itu, manusia dan budaya seakan berjalan seiring tapi tanpa bertatap muka. Sebab, pengandaian tersebut didasarkan pada otoritas yang berbeda, agama berdasarkan wahyu atau lumen supra naturale, sedangkan sastra berdasarkan akal budi atau lumen naturale. Kebuntuan dalam mencari sebuah titik temu inilah yang kelak mendasari lahirnya ideologi neo-modern, yaitu ideologi agnostikisme.  Tuhan hanya bisa geleng-geleng kepala.

Berabad-abad kemudian,  di Indonesia zaman setelah pemberontakan PKI telah berlalu, Indonesia ternyata masih belum bisa lepas sepenuhnya dari trauma hebat dari masa lalu. Sastrawan tidak juga berani menampilkan sebuah karya sastra yang murni dari sebuah pemikiran idealis mereka. Pada zaman itu, mereka berhitung-hitung untung ruginya bila menciptakan sebuah karya sastra. Semua pencipta karya sastra mulai dari penulis novel, puisi, drama hingga pelaku drama seolah-olah hanya menjadi domba-domba yang digiring menuju kandang oleh penggembala. Pemerintah sebagai penggembala juga tidak tegas dalam menanggapi situasi kegentingan yang tercipta berkat ketidakbecusan sendiri. Alhasil sastra dan satrawan masa itu harus gigit jari dan mati kutu.
Sentimen terhadap PKI yang belum dapat dihilangkan ternyata berimbas terhadap produktivitas sastrawan. Tidak ada namanya mati karena cinta, begitu pula mati hanya untuk sastra. Tidak satupun orang yang berani melanggar rambu-rambu jalan yang diciptkan oleh masyarakat yang tengah begitu sensitif. Masyarakat yang mayoritas adalah umat islam masih dilanda perasaan dendam terhadap perlakuan PKI di masa lalu. Karenanya, tidak ada tebang pilih dalam menumpas idelologi komunis, segala sesuatu yang berbau komunis harus tidur di bawah tanah, termasuk pencipta tulisan dan karya romansa sosialis komunis. Alhasil situasi yang demikian hanya akan membuat stagnansi dalam perkembangan karya sastra Indonesia. Tuhan sekarang mengerutkan dahinya.

Era Restorasi Sastra dan Budaya


Tonggak kekuasaan sudah beralih dari presiden pertama ke presiden yang kedua. Pasca peristiwa heboh sastra yang mengguncang seluruh masyarakat indonesia, kesusatraan Indonesia tampaknya mengalami kemajuan. Kreativitas sama sekali tidak dibatasi asal nama pemerintah tidak disebut dan disalah-salahkan. Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan kalau tidak konsekuensinya adalah rutan Salemba. Kelompok-kelompok kritis yang menyuarakan aspirasi lewat sastra hanya sebatas dalam komunitas kecil. Dimulai sejak zaman inilah, dikenal sebuah istilah yaitu sastra kampus. Rupanya, gejolak jiwa muda para mahasiswa pada masa itu tidak mau begitu saja menerima penghakiman dari orang-orang yang berkuasa. Pelaku sastra dalam lingkup kampus akhirnya getol dalam menyuarakan kritikannya. Mereka dengan gagah berani menghujat, mengkritik dan tidak sependapat dengan kebijakan-kebijakan cendana yang hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat Indonesia. Merekalah komunitas pertama sebelum KPK ada, yang berani menguak kasus-kasus tindak penyalahgunaan wewenang yang berujung pada kasus korupsi walaupun akhirnya harus berakhir di kursi pesakitan. Kiranya, diantara mereka pasti berpikir Indonesia belum merdeka terjajah korupsi. Paling tidak semangat untuk menegakkan keadilan melalui karya-karya sastra itulah yang patut diapresiasi dan dikembangkan. Tuhan sekarang sedang berpikir.

Waktu berrgulir dengan cepat menuju peraduannya, reformasi telah membuat dunia sastra kembali bergairah, menemukan kembali semangat yang sempat hilang dan atau dibatasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Indikasinya jelas, banyak sekali ragam karya sastra yang tercipta pada masa reformasi. Restorasi sastra dalam berbagai bentuk, hingga genre telah membawa cakrawala pemikiran manusia menuju tingkatan yang lebih tinggi. Keinginan untuk terus mengeksplorasi segala sesuatu ciptaan Tuhan dijadikan dasar keinginan untuk dapat terus berkarya. Rasa ingin tahu yang dulu terbelenggu oleh tirani yang menggelar selambu kelam pada setiap aktivitas penciptaan sebuah karya sastra, sekarang sudah mulai terurai.


Novel religius, drama absurd hingga puisi-puisi satir kritis merupakan hal-hal yang dulunya mewah dan sekarang bebas diperjualkan. Kesempatan yang seluas-luasnya inilah adalah sesuatu yang bisa digunakan untuk memberotak kepada Tuhan. Karena bersastra merupakan sebuah pencerahan yang dapat menggiring kita untuk menemukan Tuhan.
Previous
Next Post »

2 comments

  1. baru tau nih , ada nama-nama seperti itu . bagus gan nambah pengetahuan ...

    ReplyDelete
  2. hihhi infonya bagus, kalimatnya mengalir enak dibaca..jadi penasaran terus..
    terimakasih gan infonya

    ReplyDelete