Kumpulan Cerpen Terbaru : Anak Panah Pembawa Bencana

12:16 PM


http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/

Sumantri tak sanggup menahan rasa sedihnya tatkala didapatinya raga adiknya  hampir terbujur kaku di depan matanya kini.  Sosok buruk rupa itu kini sekarat dan ditangisi sejadi-jadinya hingga mungkin akan terdengar hingga ujung negeri. Aku tak menyangka sama sekali Sumantri yang seorang patih agung pada akhirnya secara tidak sengaja mengambil nyawa  adiknya dengan cara seperti ini. Sepasang adik-kakak yang telah lama kukenal sejak kecil dulu kini hanya tinggal kenangan. Walaupun, sebenarnya aku bukan orang yang benar-benar menyukai mereka, tetapi pemandangan yang kulihat sekarang ini sungguhlah ironis. Betapa Sukrasana memang sangat bergantung kepada kakanya yang gagah itu. Begitu pula patih agung dari Prabu Arjunasasrabahu itu sangat menyayangi adiknya. Bagiku, perpisahan mereka ibarat perceraian jiwa dan raga dari tubuh manusia.


Aku yang sama sekali tidak memiliki ilmu kanoragan dapat saja tertimpah pohon di sekitar tempatku bersembunyi kini. Kaki Sumantri yang kokoh itu itu menjejak dalam-dalam pada tanah, lalu membuat gempa kecil yang membuatku semakin gusar dan ingin lari dari persembunyianku. Namun, kakiku seakan sulit untuk diajak bekerja sama karena hebatnya getaran yang membuatku merinding setengah mati. Alangkah saktinya Sumantri ini! 

*****

Aku tak habis pikir apa yang membuat kakak beradik di depan mataku ini tampak begitu riang. Lihat saja penampilan adiknya itu, tidak terlihat sama sekali kemiripan secara kasat mata dengan kakaknya.  Semakin aneh saja karena kakaknya itu sama sekali tak keliatan risih dengan kondisi perawakan adiknya itu.

                  Cerpen Jangan Jadi Seperti Aku
 
Aku gugup ketika kakang Sumantri, kakak dari Sukrasana tiba-tiba  megajakku berlatih kanoragan. Aku tak punya alasan untuk menolak ajakan kakang Sumantri yang memang dikenal sangat ramah. Tetapi berlatih dengan adiknya yang buruk rupa itulah yang membuatku agak berat hati.
Cukup lega aku mendengar perkataan Sukrasana barusan. Aku dapat terhindar berlatih dengan bocah ingusan yang tak sedap dipandang itu. Kakak-adik itu akhirnya mengakhiri latihannya hari ini. Sumantri tampak menggendong adiknya yang kelelahan itu di punggungnya yang kuat hingga sampai ke padepokan. Entahlah melihat kakak-adik yang sedemikian akrab itu justru menimbulkan perasaan dengki dan benci kepada mereka berdua.

Esok hari, saat aku ingin melepas lelah sebentar di sebuah danau, secara tidak sengaja aku melihat  lagi Sumantri dan Sukrasana berada di sana. Mereka tampak bercakap serius tentang sesuatu sambil menunjuk ke arah danau tersebut. Aku penasaran. Kudekati saja mereka agar aku bisa sedikit-sedikit mendengar percakapan mereka.
Karena dorongan rasa penasaran yang cukup besar, aku akhirnya memberanikan diri untuk bergabung bersama mereka. Walaupun, sebenarnya aku masih merasa segan dan sungkan kepada kakang Sumantri yang merupakan seorang prajurit paling berbakat di seluruh negeri.
“ Iya, kang. Terima kasih sudah diizinkan bergabung bersama kalian di sini.”
“ Tidakkah kau percaya Man, bahwa danau yang jernih dan yang sedang kau pandang ini menyimpan seluruh rahasia alam semesta?”
“ Apakah benar demikian, Kang?”
“ Ternyata kau sama saja dengan Sukrasana, Man.  Sama sekali tidak mengetahui kesaktian dari danau ini.”
“ Maka dari itu, kakang Sumantri harus menjelaskan apa kesaktian danau ini kepada aku dan Sugiman agar kami dapat paham.”
“Hahaha...  kelak nanti kalian pasti akan mengetahui sendiri.”
“Ah... Kakang Sumantri selalu begitu, dengan adiknya sendiri saja tidak berterus terang langsung. Ayolah, Kang!”
Agaknya pembicaaanku bersama Sumantri dan Sukrasana memberiku sedikit gambaran tentang apa yang mereka bicarakan. Danau ini ternyata memiliki kesaktian yang luar biasa. Danau ini dapat mengetahui seluruh alam semesta, beserta nasib para penghuninya. Sungguh sangat susah dipercaya.


***
Nama Sumantri kini semakin kondang di seluruh negeri. Karena Sumantri yang sekarang semakin bertambah sakti dan ditakuti oleh siapapun. Ia telah melewati pertapaan yang sangat berat nan keras. Konon ia berhasil mematikan pancainderanya saat bertapa. Ia harus menahan haus dan lapar tanpa seorang pun teman dalam sebuuah gua yang teramat gelap dan dikeramatkan. Ia berada  di gua  tersebut hingga 30 hari 30 malam untuk menyempurnakan pertapaannya. Dengan senjata dan panahnya pasti akan membuat begidik siapapun orang yang ingin melawannya. Prabu Arjunasasrabahu yang mengetahui kekuatan dari Sumantri pada akhirnya memutuskan untuk mengangkat Sumantri menjadi patih agung Prabu Arjunasasrabahu.

Hari ini adalah hari pelantikan Sumantri menjadi seorang patih agung. Aku tentu saja ikut menyaksikan saat-saat bersejarah ini. Sebagai orang yang cukup kenal dengan Sumantri aku juga merasa cukup bangga dengan diangkatnya Sumantri menjadi seorang patih agung. Sukrasana yang juga ada di sana, tampak sangat bahagia melihat kakaknya diangkat menjadi seorang patih agung pendamping raja. Namun,  sukrasana tak berani menampakkan diri di keramaian kerumunan orang yang menyaksikan pelantikan kakanya. Ia khawatir apabila ia muncul di khalayak ramai, dia akan membuat takut orang-orang yang menyaksikan pelantikan. Ia juga tidak ingin membuat kakaknya kecewa karena ada keributan yang diakibatkan oleh dirinya. Manusia yang menyerupai raksasa kerdil itu bersembunyi di balik rimbun pohon bambu dan mengamati dari jauh kakaknya yang tengah memakai baju kehormatan kerajaan yang membuatnya semakin terlihat gagah.

Semakin terik matahari membakar kulit-kulit manusia yang ingin menyaksikan diangkatnya Sumantri menjadi patih agung. Kuamati bahasa tubuh dari Sukrasana yang penuh bulu itu nampak semakin gusar dan tidak sabar menantikan detik-detik diangkatnya Sumantri menjadi patih agung. Matanya berbinar-binar sekaligus berair menatap kakaknya.
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sumantri berjalan gagah menuju mimbar untuk menyampaikan sambutannya kepada seluruh rakyat.

“ Terima kasih, saudara-saudaraku telah rela menunggu berlama-lama untuk menyaksikan penobatan patih agung ini. Saya berjanji dengan segala jiwa raga yang saya miliki untuk melindungi negeri yang sangat kita cintai ini. Saya akan menghalau segala kejahatan yang akan masuk ke negeri ini. Saya bersumpah, dengan panah yang saya pegang ini, saya akan membunuh semua orang jahat yang coba merusak ketenteraman dan ketenangan negara ini.”
Rakyat yang menyaksikan pun bersorak gembira dengan sambutan patih agung barunya itu.
Sukrasana yang tetap bersembunyi di balik pohon bambu tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Sukrasana menangis. Menangis karena bahagia.
Suara itu perlahan hilang. Matanya juga pelan-pelan memejam. Sukrasana kini tiada. Sumantri menangis. Aku juga menangis. Langit pun juga begitu.


Previous
Next Post »
0 Komentar