Kumpulan Puisi Terbaru : Gelas Kaca

12:05 PM
http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/
Kumpulan Puisi Terbaik - Puisi merupakan salah satu medium untuk mengekspresikan diri penulisnya. Tulisan puitis yang dirangkai sedemikian rupa tidak hadir begitu saja, melainkan berasal dari pemikiran yang menggunakan kemampuan seluruh pancaindera. Dengan demikian, apabila suatu puisi dapat merangsang pancaindera pembacanya maka dapat dikatakan bahwa puisi tersebut adalah puisi yang berkualitas. Artikel Kami telah mencoba menghadirkan puisi-puisi yang berkualitas agar dapat dinikmati oleh pembaca. Pembaca juga dapat membaca koleksi puisi blog ini dalam Kumpulan Puisi Memunggungi Matahari, Kumpulan Puisi Terbelakang, Kumpulan Puisi Kontemporer serta Kumpulan Puisi Bunga Kertas. Pada kesempatan kali ini, akan kembali diterbitkan puisi-puisi terbaru yang bertemakan cinta, kehidupan, kesedihan dan lingkungan yang berjudul Kumpulan Puisi Gelas Kaca.



ENTAH

Adakah matahari memperdaya awan menjadi kelabu
Hempas asa bersanding ria di pelataran damai
Sukma tak lagi dapat berkata
Mengukir dahaga diambang bejana
Tepis angin dalam genggam
Rengkuh celah membawa gulita
Bisik lirih menyayat kalbu
Gundah terapung mengalir jauh
Terbang terselubung meraup kelu



GELAS KACA

Tercipta dalam wujud serupa
Sebening sukma memancar cahaya
Terisi arus genangan jernih
Rapuh walau tak tampak
Sentuh perlahan tak kan terkoyak
Terjaga dalam kotak perkasa
Sigap tampung pelapas dahaga
Retak tak dapat rekat serangkai
Berjajar dalam barisan tertata rapi





GENDONGAN PERTIWI

Siramkan dusta dalam nyala api kejujuran
Tenggelamkan suara seraya menebas kepongahan
Mengirimkan riuh lantunan gelincir durjana
Genangan ombak di sepanjang hutan badai
Menyangkal paham menepi arah
Kibas sanubari di relung belahan jiwa
Sejauh mata memandang setuju arah satu
Berangka rongga dalam kematian

Setajam hening desau mendesir haru
Datang pecahan jingga bergaris mutiara
Meracuh jiwa meranggas kelam rindu
Bersilih sambut meraba segala kepal abadi
Terbopong jauh menyeberang lentera negeri


GERBANG ANAKKU

Derai tangis haru
Mengiringi langkah pastimu
Tangis bahagia
Menyelimuti kidung pergimu
Bukan tuk kau tinggalkan

Pergilah anak ku
Melangkahlah pasti
Raih bahagiamu, ukir sejarah hidupmu
Jangan pernah  kau hapus nama ayah ibumu
Tetap kenang walau kami tiada

Percayalah anak ku
Kau telah menemukan sandaran teramat kokoh
Jangan kau dustai, pun curangi
Sedianya abdikan hidupmu
Tak kan pupus doa ayah dan ibu
Tegaklah berdiri, jangan gontai, jangan lemah

Anak ku jangan kau kembali
Tetaplah bersamanya
Tak kan ada badai bendera hidupmu
Baktikan seluruh jiwamu padanya
Miliknyalah ragamu kini


HAI!

Hai matahari!
Pancarkan sinarmu

Hai bulan!
Tampakkan terangmu

Hai bintang!
Kerlipkan cahayamu

Hai hujan!
Cucurkan deraimu

Hai awan!
Teruslah mendampingi langit
Selimuti ia agar tetap terjaga

Hai langit!
Tetaplah menjadi permadani
Untuk matahariku
Untuk bulanku
Untuk bintangku
Untuk hujanku




JAWAB

Selaras angin mengusik kabut
Membaur padu bersemai kalut
Mendamba segala terhanyut padu
Terbuai alun merebah ragu
Gemuruh desir elok berbisik
Menggambar tanda tapak temaram
Membara raung selayak gaung
Sibak awan menyapa bintang
Usah genggam arak berdebu
Harap terjaga kian membisu
Umpama semu kian menyeru


KEMBALI

Kepala ini sudah terlatih untuk menggelang
Bibir ini telah terbiasa berkata tidak
Jalan menanjak dan berbatu tak dapat disangkal
Haus dan dahaga tak dapat menjadi sangsi
Jalan terjal dan berliku menjadi penghias perjalanan

Kemana arah kan tertuju?
Terapung, terhempas, terjatuh, tertabrak sekalipun
Lembah muara samudra tak akan pernah dijumpa
Pasir berbisir manja juga tak akan perdah ditemu

Puluhan, ratusan, ribuan, jutaan langkah dan tak terhitung
Jalan berbingkai terlukis indah di pelupuk mata
Hingga saat kita terantar kembali
Dimana titik diam tak kan berhenti
Berdiriku kini menanti kepulangan atas perjalanan panjangku
Meski hati enggan, kembali pasti akan dinanti




KENANG MALAM RINDU

Langit nampak cerah malam ini
Meski semu bulan menggantung

Awan jernih berarak ria
Bak tirai yang kan memperlihatkan bintangku

Angin berhenti di ambang batas waktu
Tengok sabit malu mau

Bila dapat ku dekap sunyi
Harap menjadi pilar gemilang

Sibak petang bertepi rindu membisu haru
Sampai terang ajarkan petang
Sadarkan kelam menuai benderang



Previous
Next Post »
0 Komentar