Masyarakat Aneka Bahasa

11:31 AM

 
http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.com/
Komunikasi Antarbudaya dan Diglosia


           Berbicara mengenai budaya komunikasi, seperti hakikat sosiolinguistik yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya selalu berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam masyarakat. Masyarakat yang homogen tentu memiliki budaya komunikasi yang cenderung sama, begitu pula sebaliknya masyarakat heterogen cenderung sering beradaptasi sesuai dengan lawan bicaranya. Dengan adanya keterikatan antara bahasa dan etnik, bahasa dan usia, dan bahasa dan jenis kelamin tentunya faktor dan variabel yang mempengaruhi budaya komunikasi dalam masyrakat sangat beragam. Terutama, bagi orang-orang yang tinggal dalam lingkup masyarakat aneka bahasa.


       Suatu wilayah yang dihuni masyarakat dengan beragam bahasa itulah yang disebut dengan masyarakat aneka bahasa. Oleh karena itu, tanpa disadari sebagian besar dunia dibangun atas kebiasaan bahasa-bahasa kelompok (Mulyana & Rakhmat, 2009:117). Contoh negara dengan masyarakat aneka bahasa di antaranya ialah Indonesia, India (14 bahasa), Filipina (6 bahasa regional), Nigeria (3 bahasa regional), Soviet Rusia (85 kebangsaan dengan bahasa sendiri), Kanada (bahasa Inggris, Perancis, Indian, dan Eskimo), serta Amerika (10 bahasa).

            Perkembangan masyarakat aneka bahasa dipengaruhi oleh empat hal. Empat hal tersebut yaitu: migrasi, penjajahan, federasi, dan wilayah tapal batas. Dengan adanya 4 hal tersebut menjadikan masyarakat yang terdapat dalam suatu wilayah itu menjadi beraneka ragam bahasa dan budayanya. Sehingga dalam masyarakat tersebut timbulah kebudayaan-kebudayaan asing terutama dalam hal bahasa (Soedjatmoko, 2001:67).

            Efek yang ditimbulkan akibat adanya masyarakat aneka bahasa adalah (1) munculnya masyarakat bilingual atau multilingual, (2) batas bangsa dan bahasa menjadi tidak jelas, (3) hubungan etnik dengan jenis kelompok lain juga tidak jelas, (4) muncul konsepsi nasionalitas dan nasion. Nasionalitas merupakan kelompok sosial yang tidak didasarkan atas wilayah. Jadi dapat disimpulkan bahwa nasionalitas tidak perlu memiliki wilayah otonomi sendiri. Oleh karena itulah nasionalitas bebas persoalan politik (negara) atau bersifat netral. Nasionalitas ini dikembangkan dan didukung oleh nasionalisme. Peran bahasa dalam nasionalisme diantaranya ialah sebagai penghubung kejayaan masa lampau dan keotentikan, bagian dari sejarah, identifikasi diri yang konstrastif, serta menyatukan dan memisahkan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa peran bahasa dalam nasionalitas tidak begitu terlihat. Sedangkan nasion merupakan satuan politik teritorial di bawah kendali nasionalitas, terdiri dari berbagai etnik, dan mengacu masalah kekuasaan pragmatik. Peran bahasa dalama nasion terlihat sangat gamblang. Hal ini dapat dilihat dari bidang ekonomi dan bidang pendidikan. Efek yang ditimbulkan selanjutnya adalah (5) timbulnya masalah, diantaranya ialah keanekabahasaan bekerja berlawanan dengan arah nasionalisme, sulit dalam menentukan pilihan bahasa nasional, dan dalam tataran praktis masalah yang ditimbulkan ialah masalah ekonomi, industri, dan gangguan sosial. Hal ini senada dengan pendapat Mulyana & Rakhmat (2009:11) yang menyatakan bahwa keanekaragaman bahasa dalam satu wilayah itu menimbulkan banyak masalah karena sulitnya dalam hal berkomunikasi.


            Diglosia dalam ragam bahasa menurut Ferguson terdiri atas sembilan segi. Sembilan segi tersebut ialah (1) fungsi yang merupakan kriteria penting dalam menentukan penggunaan ragam dialek atas (RDA) dan ragam dialek bawah (RDB). RDA digunakan dalam situasi formal sedangkan RDB digunakan dalam situasi informal. (2) Prestise dalam RDA dianggap lebih unggul dan gagah sedangkan RDB lebih rendah atau inferior. (3) Warisan tradisi tulis menulis menunjukkan banyaknya kepustakaan yang ditulis dalam RDA. (4) Pemerolehan bahasa bahwa RDA dapat diperoleh melalui pengajaran formal sedangkan RDB dipelajari secara normal dan bahkan tanpa kesadaran. (5) Pembakuan dapat ditunjukkan dari kaidah baku yang ditulis dalam RDA. (6) Stabilitas, bahwa adanya kehendak pertahanan dua bahasa. (7) Tata bahasa menunjukkan bahwa RDA lebih rumit dan jika diterjemahkan dalam dialek rendah terasa sangat kaku, sedangkan RDB lebih sederhana. (8) Kosa kata antara RDA dan RDB berpasangan, misal bentuk dasar asma untuk RDA dan nama untuk RDB.  Yang terakhir ialah (9) ciri fonologi bahwa RDA dan RDB membentuk struktur fonologi tunggal.
Previous
Next Post »
0 Komentar