Sosiolinguistik : Bahasa dan Usia

11:54 AM

Hubungan Bahasa dan Usia

Bahasa merupakan suatu perangkat yang digunakan oleh penggunanya untuk berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan pun tak mengenal batasan umur atau usia penggunanya. Walaupun demikian, pengguna bahasa yang masih muda harus tetap memperhatikan norma kesantunan apabila berbicara dengan yang lebih tua.  Artikel Kami akan menerbitkan sebuah artikel setelah sebelumnya telah menerbitkan artikel berjudul Hubungan Bahasa dan Jenis Kelamin dan Hubungan Bahasa dan Etnik , kali ini akan dibahas mengenai hubungan bahasa dan usia dalam kajian sosiolinguistik.

Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kebanyakan orang meributkan bagaimana orang bersikap terhadap bahasa bukan bagaimana menyikapi bahasa. Hal ini dapat dilihat dari artikel yang ditulis Yahya (1978) dan Sugiarto (1985) yang sama-sama berisi penganjuran BI. dimulai dari keluarga dan wawasan kebahasaan generasi muda. Penelitian-penelitian yang ada di Indonesia juga menunjukkan hal yang serupa. Hal ini dapat dilihat dari penelitian Aruan (1986) yang menunjukkan sikap generasi muda kurang positif terhadap bahasa, Yahya B.L (1976) menunjukkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia dipengaruhi usia. Begitu pula penelitian yang dilakukan Yenny (1988) menunjukkan sikap positif terhadap bahasa Jawa dipengaruhi usia.

Baca Juga : Hakikat Sosiolinguistik

Usia dapat mengelompokkan masyarakat menjadi beberapa kelompok. Diantaranya ialah kelompok anak-anak, remaja, dan dewasa. Kelompok usia tersebut merupakan faktor pendorong timbulnya dialek sosial dengan warna sendiri. Maksudnya ialah kelompok remaja memiliki ragam bahasa yang berbeda dengan bahasa yang digunakan anak-anak maupun orang dewasa. Hal ini senada dengan pendapat Wijana (2010:2) yang menyatakan bahwa remaja sebagai suatu kelompok berbeda dengan kelompok lainnya, seperti kelompok anak maupun orang tua (dewasa). Berikut akan diuraikan ragam tutur yang dibedakan berdasarkan jenjang usia atau kelompok usia.


Tutur anak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tutur anak pada masa awal perkembangan dan pada masa usia sekolah dasar. Tutur anak bersifat sementara karena setelah menginjak usia remaja ia akan meninggalkan bahasanya tersebut dan berganti dengan bahasanya yang baru, yaitu bahasa remaja. Ciri tutur anak pada masa awal perkembangan yaitu (1) terjadinya penyusutan atau reduksi, yaitu penghilangan fungtor atau kata tugas seperti: kata depan, kata sambung, dan partikel. (2) Mempertahankan kata-kata, yaitu kata yang tergolong kontentif atau kata penuh. kata kontetif merupakan kata yang memiliki arti walaupun berdiri sendiri. Dengan menghilangkan fungtor dan mempertahankan kontentif inilah tutur anak menjadi teratur dan sistematis, sehingga bahasa mereka dapat dimengerti orang dewasa. (3) Ciri universal ditinjau dari segi fonologi. Pada masa perkembangan, anak lebih banyak mengucapkan bunyi bilabial karena bunyi bilabial mudah diucapkan. Sedangkan tutur anak pada masa usia SD bersifat inovatif. Ketika SD anak mulai menjadi masyarakat bilingual sebagai akibat kontak bahasa dan budaya. Dalam hal ini dapat terjadi peristiwa inferensi, yaitu terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan seshingga tampak adanya penyimpangan (Chaer, 2012:66). Mereka cenderung menyimpang dalam bertutur karena mereka masih dalam tahap belajar  mengembangkan bahasanya (bersifat developmental). Hal ini senada dengan pendapat Djaali (2007:52) yang menyatakan bahwa pada mulanya anak kurang terlatih dan terkontrol ketika memasuki alam manusia yang aktif, namun lama-lama menjadi terkontrol dalam hal penggunaan kata-kata yang lebih ramah dan bersahabat. Tutur remaja berbeda dengan tutur anak. Remaja cenderung menciptakan bahasa rahasia, sehingga bahasa mereka kreatif. Hal ini karena didorong faktor ingin membentuk kelompok eksklusif. Bahasa yang digunakan remaja dapat dibedakan menjadi lima. Diantaranya (1) penyisipan konsonan v+vokal, (2) penggantian suku akhir dengan –sye, (3) membalik fonem-fonem dalam kata, (4) variasi dari model tiga, dan (5) bahasa prokem. Sedangkan tutur orang dewasa juga terjadi penyusutan (reduksi) yang biasa disebut dengan bahasa telegrafis. Penyusutan ini karena alasan ekonomis dan kepraktisan. Hal ini dapat dilihat pada pengiriman telegram, ragam non baku, dan pijin. Pijin tidak memiliki penutur asli karena merupakan kebutuhan sesaat. Jika memiliki penutur asli, maka namanya tidak lagi pijin tetapi kreol.
DAFTAR RUJUKAN

Wijana, I Dewa Putu. 2010. Bahasa Gaul Remaja Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media Publishing.

Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Previous
Next Post »

3 comments

  1. wah keren nih gan infonya trims udah share

    ReplyDelete
  2. keren nih artikelnya gan :) makasih udah mau berbagi :)

    visit : http://joe-ngeblog.blogspot.com/

    ReplyDelete
  3. analisisnya mantab mas...
    berarti seiring dengan perkembangan usia, bahasa jg ikut berkembang ya.
    ini dipengaruhi lingkungan dan pendidik...
    postingnya bermanfaat
    makasih infonya

    ReplyDelete