Analisis Puisi Di Atas Batu Sapardi Djoko Darmono

10:15 AM
http://artikel-pendidikan-sosial-ilmiah.blogspot.co.id/
Telaah Makna Puisi Di Atas Batu-Di Atas Batu merupakan salah satu puisi karya Sapardi Djoko Damono yang dimuat dalam antologi Perahu Kertas (1982). Baris pertama hingga keempat dari lima baris puisi ini mendeskripsikan kerisauan hati tokoh ia yang tercantum dalam baris terakhir.Demi meyakinkan diri bahwa tokoh ia sedang berada di tempatnya kini, ia melempar-lemparkan kerikil ke tengah sungai, menggerak-gerakkan kakinya di air, dan memandang keadaan alam di sekelilingnya. Penggunaan tanda hubung ganda (“--”) pada permulaan baris terakhir semakin memperjelas pentingnya baris ini dalam keseluruhan puisi dengan membuatnya berbeda dari baris-baris sebe-lumnya.


Puisi ini secara implisit menyinggung keadaan politik Indonesia pada dekade 1980-an yang diwarnai dengan aksi pembredelan beberapa surat kabar oleh rezim Orde Baru. Frasa matahari yang hilang yang muncul pada baris keempat kemungkinan besar merepresentasikan pembredelan harian Sinar Harapan oleh rezim Orde Baru yang digambarkan dalam kalimat timbul di sela goyang daun-daunan. Perlu diingat bahwa rezim Orde Baru dikuasai oleh tentara berseragam hijau yang dilambangkan dengan daun dan kala itu Sinar Harapan bermetamorfo-sis menjadi harian Suara Pembaruan sehingga jelaslah maksud dari kalimat mata-hari yang hilang - timbul di sela goyang daun-daunan pada baris ketiga.


Adapun, judul Di Atas Batu dipilih untuk menggambarkan kehidupan pada masa Orde Baru yang keras dan penuh tekanan, terutama bagi sastrawan yang ti-dak bebas berkarya pada waktu itu.
Singkatnya, Sapardi melalui tokoh ia ingin memastikan bahwa dirinya be-nar-benar berada di tanah airnya, Indonesia, terlepas dari perubahan-perubahan yang banyak terjadi pada dekade 1980-an itu. Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Maulana (2012:21), dorongan hati menulis puisi seorang penyair tidak datang begitu saja dari dunia tak dikenal, tetapi datang dari pengalaman yang dihayatinya secara total.

 Diksi dalam Puisi Di Atas Batu

Pilihan kata yang dipakai oleh Sapardi dalam puisinya ini memakai unsur-unsur alam, baik yang berupa makhluk hidup maupun benda mati, antara lain ba-tu (benda mati), daun (tumbuhan), dan capung (hewan). Pilihan kata itu diguna-kan untuk menggambarkan keadaan sosiopolitik Indonesia pada waktu itu, misal-nya daun sebagai lambang tentara yang menguasai rezim Orde Baru.

Majas dalam Puisi Di Atas Batu

Majas, menurut Waluyo (1987:83), adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yaitu mengungkapkan makna secara tidak langsung.
Baris ketiga dan keempat sarat akan majas simbolik Frasa matahari yang hilang merupakan simbolisasi pembredelan harian Sinar Harapan; timbul di sela goyang daun-daunan mencer-minkan metamorfosis harian tersebut menjadi harian menggambarkan bangkitnya harian tersebut yang sepertinya mudah karena sudah ada jalan setapak, tetapi menjadi sulit karena ha-rus mendaki tebing kali (merintis dari bawah). Adapun, beberapa ekor capung melambangkan para elite politik dan konglomerasi yang bebas “beterbangan” pa-da masa Orde Baru.
Selain itu, baris tersebut juga mengandung majas personifikasi, yaitu go-yang daun-daunan dan jalan setapak yang mendaki.

Rima dalam Puisi Di Atas Batu

Puisi Di Atas Batu ini berima putus karena baris keempat tidak mengikuti persamaan bunyi yang telah ada. Rima putus dalam puisi ini berpola a a a b a:
Rima awal juga ditemukan dalam puisi ini, yaitu berulangnya kata ia pada awal baris pertama hingga ketiga dan kelima.

Citraan dalam Puisi Di Atas Batu


Baris pertama dan kedua puisi Di Atas Batu merupakan citraan gerak se-perti tampak pada kalimat ia duduk di atas batu dan ia menggerak-gerakkan kaki-kakinya di air. Selanjutnya, baris ketiga dan keempat merupakan citraan pengli-hatan seperti tampak pada kalimat ia pandang sekeliling.
Previous
Next Post »
0 Komentar