Pengertian Paragraf, Ciri-Ciri, Fungsi, dan Jenis Paragraf

4:55 PM

Untuk menulis sebuah paragraf yang baik, diperlukan pemahaman mengenai prinsip dan langkah yang benar tentang penulisan paragraf beserta penyusunannya. Pada dasarnya paragraf merupakan bagian dari sebuah karangan yang tersusun dari sekelompok kalimat yang dirangkai untuk membuat pikiran utama.

Seorang penulis paragraf dituntut memenuhi prinsip dan langkah penulisan  paragraf yang baik, terutama jika para penulis pemula merasa sulit dalam mengorganisasikan dan mengembangkan gagasannya. Ketika seorang penulis paragraf berusaha menyusun paragraf yang baik, pada saat itu ia telah berada dalam kesiapan merangkai suatu tulisan yang baik. Untuk dapat mempersiapkan dasar belajar seperti itu, maka perlu diperhatikan mengenai prinsip dan langkah penulisan paragraf  yang baik.

Dengan memahami prinsip dan langkah penulisan paragraf yang baik, diharapkan penulis dapat mengembangkan paragraf dengan susunan yang baik agar mudah dipahami oleh pembaca. Pada gilirannya perlu pula dipahami secara baik mengenai jenis-jenis paragraf dengan pola pengembangannya, yaitu : narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Penulis paragraf harus memahami prinsip dan langkah penulisan paragraf yang baik, maka dari itu pemahaman intensif mengenai prinsip dan langkah  penulisan paragraf sangatlah penting.

Ruang lingkup

Dalam bab ini diuraikan prinsip-prinsip dan langkah-langkah bagaimana paragraf yang baik dan efektif, dan mengenai pola-pola hubungan kalimat utama (main idea) dalam membentuk suatu paragraf. Paragraf yang baik harus mempunyai keterpaduan dan kesatuan. Yang dimaksud keterpaduan paragraf adalah kemampuan untuk merangkai kalimat satu dengan kalimat yang lain sehingga kalimat tersebut mudah dipahami. Yang dimaksud kesatuan paragraf adalah tiap pargaraf hanya mengandung satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama dan bagaimana pola pengembangan antara kalimat utama dengan kalimat penjelas.


Pengertian Paragraf

Menurut Maimunah (2011:31), paragraf disebut juga alinea. Kata paragraf diserap dari Bahasa Inggris paragraf, sedangkan kata alinea dari Bahasa Belanda dari kata latin alinea yang berarti “mulai dari garis baru”. Kata Inggris paragraf terbentuk dari kata Yunani para- yang berarti “sebelum”, dan –grafein “menulis atau menggores”. Paragraf adalah sebuah wacana mini atau satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat, artinya setiap unsur pada karangan panjang ada pada paragraf.

Menurut Ahmadi (1991:1), suatu paragraf adalah suatu satuan pikiran atau perasaan,suatu satuan susunan teratur satuan-satuan yang lebih kecil (kalimat-kalimat) dan berfungsi sebagai bagian dari suatu \satuan yang lebih besar (keseluruhan komposisi).

Baca Juga :
Faktor-Faktor Penyebab Kepunahan Bahasa
Jenis-Jenis Wacana Menurut Para Ahli 
Panduan Wawancara Terlengkap 
Menurut Widjono (2007:1973-174) Paragraf mempunyai beberapa pengertian: (1) paragraf adalah karangan mini. Artinya, semua unsur karangan yang panjang ada dalam paragraf. (2) Paragraf adalah satuan bahasa  yang terdiri  beberapa kalimat yang tersusun secara runtun logis, dalam satu kesatuan ide yang tersusun secara lengkap, utuh, dan padu. (3) paragraf adalah bagian dari suatu karangan yang terdiri dari sejumlah kalimat yang mengungkapkan satuan informasi dengan pikiran utama sebagai pengendalinya dan pikiran penjelas sebagai pendukungnya. (4) paragraf yang terdiri dari satu kalimat berarti tidak menunjukkan ketuntasan atau kesempurnaan. Sekalipun tidak sempurna, paragraf yang terdiri dari satu kalimat dapat digunakan. Paragraf satu kalimat ini dapat dipakai sebagai peralihan antarparagraf, sekaligus memperbesar efek dinamika bahasa. Akan tetapi sebagai kesatuan bahasan menjadi suatu bentuk ide yang utuh dan lengkap, paragraf hendaklah dibangun dengan sekelopok kalimat yang saling berkaitan dan mengembangkan satu gagasan.

Berdasarkan pengertian paragraf yang dipaparkan dari berbagai sumber diatas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan. Kata paragraf berasal dari Bahasa Yunani dan diserap dalam Bahasa Inggris, dalam Bahasa Yunani paragraf terbentuk dari dua kata, para- yang berarti “sebelum”, dan -grafein yang berarti “menulis atau menggores”. Paragraf mengandung pengertian suatu bentuk wacana mini yang terbentuk dari pikiran  dan satuan-satuan yang teratur yang di dalamnya terdapat kalimat utama atau kalimat topik yang ditunjang oleh kalimat yang mengembangkan kalimat topik.

Ciri-ciri paragraf

(1) kalimat pertama bertakuk ke dalam lima ketukan spasi untuk jenis karangan biasa, misalnya surat, dan delapan ketukan untuk jenis karangan ilmiah formal, misalnya: makalah, skripsi, thesis, dan disertasi. Karangan yang berbentuk lurus dan tidak bertakuk (Block Style) ditandai dengan jarak spasi merenggang, satu spasi lebih banyak daripada jarak antarbaris lainnya.(2) paragraf menggunakan pikiran utama (gagasan utama) yang dinyatakan dalam kalimat topik (3)  setiap paragraf menggunakan sebuah kalimat topik dan selebihnya merupakan kalimat pengembang yang berfungsi menjelaskan, menguraikan, atau menerangkan pikiran utama yang ada dalam kalimat topik; (4) paragraf menggunakan pikiran penjelas (gagasan penjelas) yang dinyatakan dalam kalimat penjelas. Kalimat ini berisi detail-detail kalimat topik. Paragraf bukan kumpulan kalimat-kalimat topik. Paragraf hanya berisi satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Setiap kalimat penjelas berisi detail yang spesifik, dan tidak mengulang pikiran penjelas lainnya (Widjono Hs, 2007:174).

Selain memiliki ciri-ciri paragraf juga mempunyai fungsi, misalnya dalam karangan yang panjang, paragraf mempunyai arti dan fungsi yang penting. Dengan paragraf seorang penulis karangan dapat mengekspresikan seluruh gagasan secara utuh, lengkap, dan menyatu sehingga mudah dipahami bagi pembaca seperti yang diharapkan penulis paragraf dan pembaca pun tidak cepat merasa bosan. Lebih lanjut paragraf mempunyai fungsi sebagai berikut.

Fungsi paragraf
(1) Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam serangkaian kalimat yabg tersusun secara logis, dalam suatu kesatuan.
(2) Menandai peralihan (pergantian) gagasan baru bagi karangan yang terdiri beberapa paragraf, ganti paragraf  berarti ganti pikiran.
(3) Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembacanya.
(4) Memudahkan pengembangan topik karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil, dan.
(5) Memudahkan pengendalian variabel terutama karangan yang terdiri atas beberapa variabel (Widjono Hs, 2007:175).

Ciri Paragraf yang Baik
(1) Kepaduan Paragraf
Yang dimaksud keterpaduan paragraf adalah kemampuan untuk merangkai kalimat satu dengan kalimat yang lain sehingga kalimat tersebut mudah dipahami. Suatu paragraf disebut padu jika hubungan pikiran-pikiran yang ada dalam paragraf menghasilkan kejelasan struktur dan makna paragraf. Jadi di dalam keseluruhan paragraf itu terdapat pertalian-pertalian antara kalimat topik atau kalimat utama dengan kalimat pengembang atau kalimat penjelas. Untuk membentuk keterpaduan antara paragraf dapat dilakukan dengan cara menggunakan kata penghubung, terdapat dua jenis kata penghubung, yaitu kata penghubung intrakalimat dan kata penghubung antarkalimat. Yang dimaksud kata penghubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat, contohnya: karena, sehingga, tetapi, dsb. Sedangkan yang dimaksud kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya, contohnya: oleh karena itu, jadi, kemudian dan sebagainya.
Contoh : Remaja mempunyai banyak potensi untuk dikembangkan. Remaja terkadang tidak menyadari bahwa ia memiliki banyak kelebihan yang bisa digali dan diberdayakan guna menyongsong masa depan. Mereka perlu bantuan untuk dimotivasi dan diberi wawasan. Anak-anak muda lewat potensinya adalah penggengam masa depan yang lebih baik dari para pendahulunya.


(2) Kesatuan paragraf
Suatu paragraf memiliki kualitas kesatuan (unity) atau keutuhan, jika semua bagiannya berfungsi bersama-sama di dalam pengembangan gagasan utamanya (main idea) atau efek emosionalnya (Ahmadi, 1991:4). Sedangkan menurut Widjono (2007:180) untuk menjamin adanya kesatuan paragraf, setiap paragraf hanya berisi satu pikiran, paragraf dapat berupa beberapa kalimat. Tetapi, seluruhnya harus merupakan kesatuan, tidak satu kalimat pun yang sumbang yang tidak mendukung kesatuan paragraf. Jadi yang dimaksud kesatuan paragraf adalah setiap paragraf hanya mempunyai satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama dan dalam sebuah paragraf yang baik tidak diperbolehkan ada lebih dari satu pokok pikiran. Kalimat utama yang diletakkan di awal paragraf disebut dengan paragraf deduktif, sedangkan kalimat utama yang diletakkan di akhir paragraf disebut dengan paragraf induktif. Deduktif adalah proses penalaran dengan menyebutkan gagasan utama yang bersifat umum dan dilanjutkan dengan gagasan yang bersifat khusus.


2.1.6 Penempatan Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas

Paragraf terdiri atas beberapa kalimat. Paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat tidak mengalami pengembangan. Setiap paragraf berisi kesatuan topik, kesatuan pikiran atau ide. Kalimat-kalimat tersebut haruslah dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi paragraf yang baik, yaitu paragraf yang memenuhi persyaratan kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan. Kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas haruslah menggunakan cara yang  jelas sehingga dapat diketahui strukturnya.

Kalimat-kalimat dalam paragraf dapat dikategorikan menjadi (1) kalimat utama, dan (2) kalimat penjelas. Ada pula yang menambah satu lagi yaitu kalimat penegas. Kalimat penegas pada hakikatnya sama dengan kalimat topik, hanya saja kalimat penjelas biasanya merupakan penyimpulan, sehingga tidak pernah terdapat pada awal paragraf. Struktur paragraf biasanya dikaitkan dengan pengurutan letak kalimat utama, dan kalimat-kalimat penjelas. Khusus paragraf naratif dan deskriptif tidak dapat ditemukan kalimat utama dan kalimat penjelas.

Atas dasar kategori kalimat dalam paragraf tersebut, secara garis besar struktur paragraf (selain paragraf narasi dan deskripsi) dapat dikategorisasikan menjadi tiga, yaitu:
(1) Kalimat utama pada awal paragraf dan diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas,
(2) Kalimat pada akhir paragraf dan didahului dengan kalimat-kalimat penjelas, serta
(3) Kalimat utama terdapat pada awal dan akhir paragraf, diselingi dengan kalimat-kalimat penjelas.

Sesuatu yang bisa dijadikan sebagai objek karangan deskripsi yaitu ada empat. Yaitu berupa benda seperti telefon seluler, ruang atau tempat seperti kamar tidur, orang atau personal seperti ibu atau ayah, dan peristiwa atau kejadian (tetapi bukan kronologi). Adapun objek berupa ruang atau tempat ada 3 pengembangan, antara lain (1) pola statis, tetap atau tidak bergerak yaitu mendeskripsikan tempat dengan menggunakan urutan tertentu, misalnya: atas bawah atau sebaliknya, kanan kiri atau sebaliknya, dekat jauh atau sebaliknya; (2) pola bergerak yaitu mendeskrisipkan tempat atau objek secara berubah-ubah, kesan yang menarik atau yang ditonjolkan; (3) pola kerangka yaitu mendeskripsikan objek secara garis besarnya saja. Sedangkan deskripsi objek berupa orang atau personal antara lain bisa dilihat dari fisik, watak, sifat, dan perasaan.

Pengembangan Paragraf
Pengembangan paragraf yang pertama dapat dilihat dari sudut pandang teknik. Berdasarkan tekniknya pengembangan paragraf dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) pengembangan secara alamiah, dan (2) pengembangan secara logis. Pengembangan paragraf secara alamiah adalah pengembangan paragraf yang dikembangkan berdasarkan urutan waktu yang bersifat kronologis. Hal itu berarti kalimat yang satu mengungkapkan waktu terjadinya suatu peristiwa, atau waktu suatu kegiatan dilakukan, dan diikuti oleh kalimat-kalimat yang lain. Paragraf yang dikembangkan dengan cara ini tidak dijumpai adanya kalimat utama atau kalimat topik. Paragraf seperti ini biasanya digunakan pada paragraf naratif.

Paragraf yang dikembangkan berdasarkan urutan ruang atau tempat membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya dalam sebuah “ruangan”. Hal itu berarti kalimat yang satu mengungkapkan suatu gagasan yang terdapat pada posisi tertentu, dan diikuti oleh kalimat-kalimat lain yang mengungkapkan gagasan yang berada pada posisi yang lain. Pengungkapan gagasan dengan urutan ruang ini tidak boleh sembarangan, sebab jika tidak maka akan mengakibatkan pembaca mengalami kesulitan memahami pesan. Paragraf seperti ini biasanya digunakan pada paragraf deskriptif.

Berdasarkan isinya pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan cara menampilkan pertentangan, perbandingan, analogi, contoh, sebab akibat, definisi dan klasifikasi (Arindriarini, 2010). Cara pembandingan dan pertentangan merupakan sebuah pengembangan paragraf yang dilakukan dengan membandingkan atau mempertentangkan sesuatu untuk memperjelas suatu paparan. Kegiatan membandingkan atau mempertentangkan tersebut berupa penyajian persamaan dan perbedaan antara dua hal. Sesuatu yang dipertentangkan adalah dua hal yang memiliki tingkat yang sama. Dan keduanya memiliki persamaan dan perbedaan. Adapun pengembangan paragraf dengan cara pemberian contoh-contoh disajikan sebagai gagasan penjelas untuk mendungkung atau memperjelas gagasan umum. Gagasan umum dapat diletakkan pada awal paragraf atau diakhir paragraf, tergantung pada gaya yang dikehendaki oleh penulis.

Pengembangan paragraf dengan sebab akibat sering disebut dengan kausalitas. Pengembangan paragraf dengan cara ini dapat dilakukan dengan menyajikan sebab sebagai gagasan utama, kemudian diikuti akibatnya sebagai gagasan penjelas; atau sebaliknya disajikan akibat sebagai gagasan utama lalu diikuti dengan penyebabnya sebagai gagasan penjelas. Yang terakhir adalah pengembangan paragraf dengan cara klasifikasi. Cara klasifikasi biasanya dilakukan dengan penyajian gagasan utama kemudian diikuti dengan gagasan penjelas secara rinci. Gagasan penjelas merupakan klasifikasi dari gagasan utamanya. Misalnya, gagasan utama A, memiliki gagasan penjelas yang dapat diklasifikasikan menjadi X dan Z.

Kalimat Simpulan
Kalimat simpulan adalah kesimpulan dari suatu tulisan. Kesimpulan adalah suatu preposisi (kalimat yang disampaikan) yang diambil dari beberapa premis (ide pemikiran) dengan aturan inferensi yang berlaku. Jadi kesimpulan merupakan suatu gagasan yang tercapai pada akhir pembicaraan. Dengan kata lain, kesimpulan adalah hasil dari suatu pembahasan.

Daftar Rujukan
Ahmadi, Mukhsin. 1991. Penyusunan dan Pengembangan Paragraf serta     Penciptaan Gaya Bahasa. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.
Maimunah, Siti Annijat. 2011. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Malang: UIN Maliki Press.

Widjono Hs. 2007. Bahasa Indonesia : Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Grasindo.
Previous
Next Post »

3 comments