Hakikat, Substansi, dan Problematika Metode Pembelajaran

12:39 AM

Hakikat dan Prinsip Belajar

Pada hakikatnya, seorang guru, pendidik, pengajar, mentor atau apapun sebutannya harus selalu memiliki rencana dalam melaksanakan tugasnya. Tanpa memiliki rencana dan persiapan, seorang guru diibaratkan seperti seorang prajurit yang berperang tanpa memiliki alutsista yang memadai.

Memang, bisa saja seorang guru berpengalaman mengajar siswanya tanpa melakukan persiapan, tetapi hasilnya tidak akan menjadi maksimal. Hal tersebut merupakan sesuatu yang berdasar karena setiap proses pembelajaran di sekolah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Dengan memiliki perencanaan dan persiapan, maka sudah terlaksanalah satu prinsip pembelajaran oleh guru.

Sama-sama diketahui bahwa terdapat dua problematika utama dalam sistem pendidikan di Indonesia, yaitu dinamika yang berlebihan kurikulum dan kestatisan metodologi pembelajaran. Untuk permasalahan pertama bisa dikesampingkan terlebih dahulu karena guru dalam kasus ini hanya sebagai objek sasaran, bukan subjek pembuat kurikulum. Kemudian, permasalahan yang kedua mengenai metodologi pembelajaran. Secara terminologi dalam KBBI metodologi pembelajaran dapat diartikan  sebagai suatu cara yang teratur dan sistematis dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Menilik pengertian tersebut, bukankah seluruh guru sudah melaksanakan prosedur itu? Mengapa menjadi suatu permasalahan?
Tendensi yang ada di sekolah-sekolah di Indonesia (walaupun tidak seluruhnya) menerapkan metode pembelajaran konvensional. Dalam artian, guru berceramah, siswa mendengarkan dan bila perlu dicatat. Metode tersebut memang tidak bisa dikatakan buruk, tetapi tidak juga bisa dikatakan baik. Akibatnya, pengetahuan siswa adalah refleksi dari pengetahuan guru, dan juga dapat dikatakan mengebiri potensi otak kiri dari siswa yang berupa kreativitas. Hal tersebut disebabkan proses pembentukan pengetahuan siswa menjadi lambat dan lebih cocok diterapkan di masa lalu pada saat perkembangan teknologi masih terbatas. Tentu saja pola pikir dan daya serap siswa pada masa lalu tidak bisa dibandingkan dengan siswa zaman sekarang. Sebagai contoh saja, siswa zaman dahulu lebih cenderung unggul secara konseptual tetapi sedikit lemah dalam aplikatif dan motorik

Berbanding terbalik dengan siswa zaman sekarang yang cenderung lebih menguasai proses penerapan dan praktik daripada teori. Atas dasar tersebut, maka perubahan zaman, kurikulum, dan pola pikir siswa perlu disikapi lebih serius khususnya dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat untuk diterapkan pada siswa.Satu lagi pertanyaan yang muncul, dengan nilai karakteristik siswa di Indonesia, mungkinkah diciptakan suatu kurikulum dan metode pembelajaran yang khas dan diciptakan dari, oleh, dan untuk masyarakat Indonesia sendiri yang dapat menembus batasan ruang dan waktu.


Previous
Next Post »
0 Komentar