Analisis Plot Drama (Telaah Jalan Cerita)

1:15 PM

Suatu karya sastra apapun bentuknya pasti memiliki unsur-unsur di dalamnya yang membangun keutuhan karya sastra itu. Drama merupakan salah satu karya sastra yang memiliki unsur-unsur yang tidak jauh berbeda dengan unsur dalam cerpen, novel, maupun roman. Unsur-unsur drama terdiri atas plot, seting, penokohan, dan yang membedakannya dari unsur karya sastra yang lain adalah struktur dramatiknya. Unsur-unsur drama merupakan bagian yang membangun dalam pementasan drama dan saling berkaitan. Dari beberapa unsur-unsur drama tersebut, plot merupakan unsur yang paling menonjol. Karena plot adalah jalinan cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam drama yang terus bergulir hingga drama tersebut selesai. Rangkaian peristiwa yang dijalin sedemikian rupa sehingga dapat mengungkapkan gagasan pengarang.
Dalam bab ini akan dijelaskankan berbagai pendapat dari beberapa ahli dan di dalamnya dikemukakan bermacam-macam jenis plot. Dalam sebuah plot juga terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian awal, tengah, dan akhir. Di dalam bagian-bagian tersebut terdiri atas eksposisi, aksi pendorong, krisis, klimaks dan resolusi, namun ada yang menyebutnya dengan istilah-istilah lain.
Pada awal, plot memberikan informasi kepada penonton tentang peristiwa sebelumnya, situasi sekarang atau tokoh-tokohnya. Kebanyakan dalam sebuah drama dari awal pengarang sudah memberi tekanan kepada satu pertanyaan atau konflik penting. Dimulai dengan adanya suatu kejadian, kejadian pertama inilah yang memulai plot dalam sebuah drama sebenarnya. Karena kejadian merupakan konflik yamg menjadi dasar sebuah drama, yang kemudian berkembang dan menimbulkan konflik-konflik yang semakin banyak dan rumit. Banyak persoalan yang saling terkait, tetapi semuanya masih menimbulkan tanda tanya. Kemudian konflik besar mulai menjadi jelas dengan menyatukan kejadian-kejadian dalam drama dan merupakan puncak dari ketegangan. Ini titik konflik paling ujung yang dicapai pemain protagonis dan pemain antagonis. Bagian terakhir dari drama yang disebut penyelesaian sampai tirai ditutup untuk mengakhiri pementasan drama. Penyelesaian merupakan pegumpulan berbagi plot drama dan membawa situasinya ke suatu kesimpulan yang baru dan jelas. Dengan demikian hasilnya bisa jadi memuaskan, tetapi mungkin juga bisa mengecewakan harapan para penontonnya. Karena apresiasi setiap orang memang berbeda sesuai dengan kreativitasnya. Dengan adanya plot maka penikmat drama mampu memahami jalan cerita dan ikut terbawa ke dalam arus cerita pementasan drama. Pada awal terjadi penafsiran oleh penikmat drama dan pasti penikmat drama juga menemukan suatu kesimpulan pada akhir drama, hal inilah yang menonjolkan unsur plot dalam drama karena plotlah yang menghiasi drama mulai akhir hingga selesai.
Unsur yang penting dalam drama berikutnya adalah seting. Seting atau tempat kejadian cerita sering pula disebut latar cerita, yang menggambarkan tentang waktu, tempat, dan suasana terjadinya sebuah cerita (Wiyanto, 2002:28). Dengan adanya seting yang jelas, penikmat drama akan membayangkan seting tersebut dengan skemata yang mereka miliki sebelumnya. Sedangkan dalam pementasan drama, penikmat drama menonton drama dengan pengapresiasian seting dari orang lain itu juga menambah gambaran baru bagi penonton. Dalam seting terdapat empat dimensi, yaitu tempat, waktu, suasana, dan peristiwa.

1.       Ruang Lingkup Penulisan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan dilakukan pengkajian karya sastra berupa drama, yakni mengenai (1) plot dan (2) seting. Pembahasan mengenai plot meliputi: (a) pembagian plot, (b) jenis plot, dan (c) anatomi plot. Pembahasan mengenai seting hanya tentang dimensinya, yaitu: (a) seting tempat, (b) seting waktu, (c) seting peristiwa, dan (d) seting suasana.

2.       Tujuan
1)       Menjelaskan pengertian plot dan pembahasan mengenai plot, yaitu (a) pembagian plot, (b) jenis plot, dan (c) anatomi plot.
2)       Menjelaskan pengertian seting dan pembahasan mengenai seting tentang dimensinya, yaitu: (a) seting tempat, (b) seting waktu, (c) seting peristiwa, dan (d) seting suasana.

A.       Plot
1.         Pengertian Plot
Unsur yang paling menonjol dalam drama terletak pada plot dan latar intrinsik yang membangunnya. Karakter merupakan bahan yang paling aktif untuk menggerakkan plot. Budianta, dkk (2002:106) menyatakan jika dalam prosa, tokoh-tokoh yang muncul itu cenderung berhenti dalam imajinasi atau identifikasi subjektif pembaca saja, tidak demikian halnya yang terjadi pada drama mengingat drama berkemungkinan untuk melaksanakan interpretasi tokoh-tokoh itu dalam bentuk konkret. Maka dalam drama tingkat kepentingan antara tokoh dan plot menjadi seimbang. Sebenarnya apa pengertian plot itu sendiri? Plot adalah urutan peristiwa yang berhubungan secara kasualitas (Soemanto, 2001:16). Hubungannya secara kausalitas ini diwujudkan oleh hubungan waktu dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot merupakan sambungan untuk menghubungkan beberapa peristiwa dengan menjelaskan bahwa peristiwa satu disebabkan oleh peristiwa berikutnya (yang lain). Plot berbeda dari prosa karena cara menyajikannya, hubungan urutan cerita dan peristiwa. Plot menunjukkan peristiwa-peristiwa secara kausatif, sedangkan cerita secara kronologis (Soemanto, 2001:16). Menurut Panuti Sudjiman (1984) dalam Santosa (2008) plot adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama) untuk mencapai efek-efek tertentu, rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Sebuah drama pada hakikatnya itu diniatkan untuk dipentaskan, maka kesetiaan karya drama terhadap struktur pola plot yang konvensional memang lebih besar dibandingkan pada karya sastra lain seperti pada prosa (Budianta, dkk. 2002:159).

Plot dan jalannya cerita memang tidak ada batas yang jelas karena untuk mengetahui sebuah plot tidak mungkin dilepaskan dari jalan cerita. Plot bisa dilihat dari konflik yang kompleks dan perkembangan konflik pada jalannya cerita yang disajikan pengarang. Konflik diungkapkan pengarang melalui perubahan perilaku, pemikiran, emosi, dan karakter tokoh cerita ini yang pada dasarnya merupakan penggerak plot. Penyataan diatas diperjelas dengan pendapat yang menyatakan plot adalah jalinan cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan. Luxemburg (1984: 149) dalam Fananie (2002:93) menyebutkan plot adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku. Hayati (1990:10) berpendapat plot adalah rangkaian peristiwa atau kejadian yang sambung menyambung dalam suatu cerita. Diperjelas dengan pendapat Stanto (1965:14 dalam Santosa. 2011:5) plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Santosa (2011:7) menarik kesimpulan berdasarkan pendapat Stanto yang telah dipaparkan diatas, bahwa plot adalah urutan peristiwa dalam suatu karya sastra yang menyebabkan terjadinya peristiwa lain sehingga terbentuk sebuah cerita. Peristiwa-peristiwa dalam suatu cerita tidak hanya berupa tindakan-tindakan fisik tetapi juga tindakan-tindakan yang bersifat non-fisik. Tindakan fisik misalnya: ucapan, gerak-gerik, sedangkan tindakan non-fisik misalnya: sikap, kepribadian, atau cara berpikir.
Pendapat yang sama dengan pendapat Luxemburg di atas yaitu pendapat dari Weststeijn (1982:149) yang menyatakan plot ialah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa secara logis dan kronologis saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku.
Contoh : “DARI JENDELA LAYAR MUNCUL DUA ORANG BERTOPENG DAN MENYERGAP DALANG JENDRAL DAN AJUDANNYA DATANG SAMBIL BERTERIAK-TERIAK. DIALOGNYA SAMA SAJA DENGAN APA YANG SEBELUMNYA DIUCAPKAN (pada babak pertama).
MEREKA BERUSAHA MEMBANTU DALANG LEPAS DARI CENGKERAMAN PENONTON YANG NGAMUK ITU. TERDENGAR SUARA TERIAKAN”
Disini terdapat hubungan kronologis antara peristiwa pertama dengan peristiwa berikutnya yang menjadikannya sebuah rangkaian yang demikian saling berkaitan, sehingga pembaca mengerti bahwa urutan kalimat yang membahas peristiwa-peristiwa itu disajikan secara kronologis.
Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah dipaparkan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa plot merupakan suatu lintasan urutan peristiwa dalam suatu karya sastra yang menyebabkan terjadinya peristiwa lain yang serangkai sehingga menghasilkan suatu cerita. Rangkaian peristiwa-peristiwa dalam suatu cerita diumpamakan mata rantai yang saling berkaitan. Sebab suatu peristiwa pada dasarnya merupakan sebab atau akibat peristwa yang lain.
Plot dalam drama merupakan jalannya peristiwa dalam drama yang terus bergulir hingga drama tersebut selesai. Plot dalam pementasan drama mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam pementasan drama, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan jalannya pementasan drama. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. Jadi, plot dalam pementasan suatu drama merupakan susunan peristiwa drama yang terjadi di atas panggung.

Baca Juga :
Jenis dan Aliran Drama
Perbedaan Drama dan Teater 
Jenis-Jenis Wacana 
Plot tidak hanya dilihat dari kedudukan satu topik di antara topik-topik yang lain, melainkan harus pula di kaitkan dengan elemen-elemen lain seperti karakter pelaku dalam pemikiran pengarang tercemin dalam tokoh-tokohnya, diksi maupun proses naratifnya Crane (1963: 63 dalam Fananie, 2002:94), karena itu kedudukan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain harus di letakkan dalam rangkaian sekuen kausalitas hubungan sebab-akibat hubungan perkembangan atau penyusunan dari rangkaian peristiwa itu sendiri yang oleh Culler diistilahkan sequences of actoins (Culler, 1975:205). Propp menyebutkan bahwa keberadaan sebuah plot tidak mungkin hanya dilihat dari strukturnya saja, tetapi juga harus dilihat dari fungsinya. Menurutnya fungsi plot adalah aktivitas dramatik tokoh (act dramatic persona) yang didasarkan atas signifikasi sudut pandang dari sejumlah peristiwa yang membangun cerita secara keseluruhan (Propp, 1958:20) dalam (Fananie 2002:94).
Dalam pengertian yang lebih khusus plot dalam drama bukanlah hanya sekedar rangkaian peristiwa yang termuat dalam topik melainkan mencakup beberapa faktor penyebab terjadinnya peristiwa. Dalam konteks ini, bangunan sebuah plot menjadi sesuatu yang amat kompleks. Tidak hanya dilihat dari jalannya suatu peristiwa, namun lebih jauh perlu dianalisis bagaimana urgensi peristiwa-peristiwa yang muncul tersebut mampu membangun satu tegangan atau konflik tokohnya.
Sorokin (1986:114) dalam Soemanto (2001:348), menyatakan bahwa jika hubungan antar peristiwa dalam plot drama besifat kausal, sebab akibat, keterkaitan plot dan seting tempat dan waktu seluruh prieoritas, termasuk kostum dan yang lainnya, diharapkan membentuk atau terdapat keterkaitan logis yang bermakna.
Sebagian besar plot merupakan komplikasi. Secara global komplikasi itu dapat merupakan kemajuan atau kemunduran, sejauh pelaku utama maju atau mundur. Proses perbaikan terjadi bila sebuah tugas diselesaikan dengan baik, kemunduran atau pemburukan terjadi bila pelaku utama tergelincir dalam dosa, terpaksa mengorbankan sesuatu, terkena serangan atau fitnah. Bagi pelaku yang satu berupa kemajuan bagi yang lain dapat berupa kemunduran. Maka dari itu, deretan peristiwa atau plot tidak dapat dilepas dari hubungan antara para pelaku yang mengakibatkan atau mengalami berbagai peristiwa.

2.      Pembagian Plot
Sayuti, (2000) dalam Wiyatni (2006:36) secara garis besar plot dibagi dalam tiga bagian yaitu awal, tengah, dan akhir secara sederhana

Bagian awal, eksposisi yang mengandung instabilitas dan konflik. Bagian tengah mengandung klimaks yang merupakan puncak konflik juga terdapat komplikasi. Bagian akhir mengandung denoument (penyelesaian atau pemecahan masalah).
Secara tradisional sebagaimana dikemukakan Petronius (transl. William Arrowsmith, 1963: 13 dalam Fananie 2002:93) bahwa struktur plot mencakup tiga bagian:
a.       Exposition (seting forth of the begining)
b.       Conflict (a complication that moves to climax)
c.       Denouement (literally, ”unknotting”, the outcome of the conflict the resolution)
Dalam pembagian tersebut tampak bahwa rangkaian peristiwa yang membangun suatu plot merupakan satu sekuen rangkaian peristiwa yang berkaitan yang oleh Aristoteles dalam Fananie (2002:93) diistilahkan dengan a continious sequence of beginning, middle, ang end (Abrams, 1981: 138).
Seringkali berbagai informasi penting pada bagian awal drama, misalnya tempat drama tersebut terjadi, waktu kejadiannya, pelaku-pelakunya, dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut-paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah drama telah mencapai klimaks besar. Plot berkembang secra bertahap, mulai dari konflik yang sederhana, konflik yang kompleks, sampai pada penyelesaian konflik.
Secara teknik, tema dijabarkan dalam plot yang bergerak maju karena perbuatan tokoh. Bergeraknya plot diatur dengan lima tahap:
a.       Pengenalan masalah
b.       Awal perumitan masalah
c.       Penggawatan masalah
d.       Menuju puncaknya
e.       Penyelesaian
Banyak ahli mengatakan bahwa drama yang baik harus selalu memperlihatkan adanya konflik yang dikatakan Hudson dalam Budianta, dkk. (2002:107), atau juga konflik dan oposisi seperti disebutkan Grebanier dalam Budianta, dkk. (2002:107). Adanya konflik-konflik semacam ini menjadi jelas bagi kita bahwa drama lazimnya akan memberikan kepada pembaca maupun penontonnya tentang “perjalanan” cerita yang diwarnai oleh konflik-konflik itu. Dalam istilah Hudson, “perjalanan” itu disebut dengan dramatic-line yang secara garis besarnya adalah pemaparan / eksposisi, penggawatan / komplikasi, krisis / klimaks, peleraian / antiklimaks, dan penyelesaian.
Pembagian plot yang menggunakan tipe sebab akibat dibagi dalam lima pembagian. Bagian-bagian itu antara lain.
a.       Eksposisi adalah tahap perkenalan. Wujud perkenalan ini berupa penjelasan untuk mengantarkan penonton pada situasi awal drama hingga membeberkan materi-materi yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter yang ada di dalam drama.
b.       Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. Dalam tahap ini mulai ada kejadian. Kejadian pertama inilah yang memulai plot drama sebenarnya, karena insiden merupakan konflik yamg menjadi dasar sebuah drama.
c.       Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakter-karakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. Banyak persoalan yang saling berkaitan, tetapi semuanya masih menimbulkan tanda tanya.
d.       Klimaks adalah proses identifikasi atau proses penghilangan dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat, argumentative, kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Bagi penonton ini merupakan puncak ketegangan. Bila dilihat dari sudut konflik, klimaks berarti titik pertikaian paling ujung yang dicapai pemain protagonis dan pemain antagonis.
e.       Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari drama dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi.
Wiyanto (2002:26) menambahkan satu unsur lagi yaitu keputusan, dalam tahap ini semua konflik berakhir dan sebentar lagi drama selesai. Dengan selesainya cerita, maka tontonan drama sudah usai (bubar). Cepat lambatnya pergantian tahap satu dengan tahap lain tidak sama dengan bagian drama yang lain.
Adiwardoyo (1990:10) memiliki pendapat yang sebagian besar sama dengan pendapat ahli-ahli yang lain, bahwa plot dapat dibagi berdasarkan kategori kausal dan kondisinya. Berdasarkan kausalnya plot dapat dibedakan sebagai berikut.
a.    Plot cerita dikatakan plot urutan (episodik) apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berasarkan urutan sebab akibat, kronologis (sesuai dengan urutan waktu tempat atau hirarkhis.
b.    Plot cerita dikatakan plot mundur (flaskback) apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan akibat – sebab waktu kini ke waktu lampau.
c.    Plot cerita dikatakan plot campuran (eklektik) apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun secara campuran antara sebab akibat,  waktu kini ke waktu lampau dan waktu lampau ke waktu kini.
d.   Plot buka yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi mula yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya.
e.    Plot tengah yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak ke arah kondisi puncak.
f.     Plot puncak yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi klimaks dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang ada.
g.    Plot tutup yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak ke arah penyelesaian atau pemecahan dari kondisi klimakas.

3.         Jenis Plot
       Ketika kita menonton atau melihat sebuah pementasan drama sadar atau tidak sadar maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton tersebut. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwa-peristiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. Plot drama banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis drama yang mempermainkan emosi kita. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu).
       Wiyatmi (2006:39) membagi plot sesuai dengan penyusunan peristiwa atau bagian-bagiannya, dikenal plot kronologis atau plot progresif dan plot regresif atau flaskback atau sorot balik. Dalam plot progresif peristiwa disusun awal, tengah, dan akhir. Sementara pada plot regresif, plot disusun sebaliknya misalnya: tengah awal akhir atau akhir awal tengah. Dilihat dari kuantitasnya, terdapat plot tunggal dan plot jamak. Plot disebut tunggal ketika rangkaian peristiwa hanya mengandug satu peristiwa primer, sementara plot dianggap jamak ketika mengandung berbagai peristiwa primer dan peristiwa lain (minor). Dilihat dari kualitasnya dikenal plot rapat dan plot longgar. Disebut plot rapat apabila plot utama cerita tidak memiliki celah yang memungkinkan untuk disisipi plot lain. Sebaliknya, sebuah plot dianggap longgar apabila plot tersebut memiliki kemungkinan adanya penyisipan plot lain.
Contoh: dalam ingatan tokoh yang di kenang kembali.
a.       Simple Plot
            Simple plot atau plot drama yang sederhana adalah drama yang memiliki satu plot cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. Plot linear adalah plot cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah plot cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. Plot linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini, terdiri dari plot menanjak atau rising plot, plot menurun atau falling plot, plot maju atau progressive plot, plot mundur atau regressive plot, plot lurus atau straight plot, dan plot melingkar atau circular plot. Plot menanjak atau rising plot adalah plot dengan emosi drama mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi drama yang paling tinggi. Plot ini adalah plot cerita paling umum pada plot drama. Plot menurun atau falling plot adalah plot dengan emosi drama mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi drama yang paling rendah. Plot ini merupakan kebalikan dari plot menanjak atau rising plot. Plot maju atau progresive plot adalah plot cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa drama sampai menuju inti peristiwa drama. Jalinan jalan cerita dalam drama bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Plot mundur atau regresive plot adalah plot cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana sampai terjadi peristiwa tersebut. Plot ini merupakan kebalikan dari progressive plot.
b.       Multi Plot
            Multi plot adalah drama yang memiliki satu plot utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu plot episode atau episodic plot dan plot terpusat atau concentric plot. Plot episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri, di mana setiap episode memiliki plot cerita sendiri. Setiap episode dalam drama tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita, tema, tokoh. Tetapi pada akhir cerita plot cerita yang terdiri dari episode-episode ini akan bertemu. Concentric plot adalah cerita drama yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri, dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu untuk menyelesaikan cerita. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan.

4.       Anatomi Plot
            Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan plot cerita itu sendiri. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot, yakni:
a.       Gimmick
Gimmick adalah adegan awal dari sebuah drama yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari drama tersebut. Sesuai dengan fungsinya, gimmick biasanya berisi teka-teki agar penonton penasaran dan menimbulkan rasa ingin tahu tentang kelanjutan dari adegan tersebut. Maka dari itu gimmick biasanya dikemas semenarik mungkin. Adegan yang terdapat dalam gimmick merupakan benang merah dari keseluruhan drama. Jika adegan ini dikemas dengan menarik maka penonton akan penasaran untuk mengetahui bagaimana kelanjutan dari teka-teki ini.
b.       Fore Shadowing
Fore shadowing adalah bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi. Bisa berupa ucapan atau ramalan seorang tokoh tentang nasib yang akan diderita oleh tokoh lain.
c.       Dramatic Irony
Dramatic irony adalah aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. Dalam drama banyak dijumpai tokoh-tokoh ini, dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut.
d.       Flashback
Flashback adalah kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa drama. Kilas balik biasanya diceritakan melalui dialog peran, tetapi kilas balik pada film biasanya berupa kutipan-kutipan gambar.
e.       Suspen
Suspen berisi dugaan, dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang pertanyaan dan keingintahuan penonton. Suspen akan menumbuhkan dan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis drama dari awal sampai akhir cerita, supaya penonton bertanya-tanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. Dengan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para peran yang ada dalam naskah drama. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus, karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian penonton akan berkurang dan menganggap pertunjukan tersebut tidak menyuguhkan sesuatu untuk dipikirkan.
f.        Surprise
Surprise adalah suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut, pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Surprise dalam drama memang diperlukan karena dianggap mampu menegaskan pesan drama yang akan disampaikan kepada penonton. Penulis mencoba memberi gambaran-gambaran yang samar pada sebuah drama dan gambaran tersebut akan diduga oleh penonton. Dugaan ini akan menimbulkan rasa ingin tahu, dan rasa ingin tahu ini yang memikat perhatian penonton untuk menyaksikan cerita tersebut sampai selesai dengan harapan akan menemukan dan mencocokan jawaban yang sudah dibayangkan. Keahlian penulis untuk memberi jawaban inilah yang ditunggu oleh penonton, apakah sesuai dengan dugaanya atau malah berbeda.
g.       Gestus
Gestus adalah aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh.

Plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain, yaitu: karakter, tema, diksi, musik, dan spektakel. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah drama dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan drama serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama.
Sayuti (2000) dalam Wiyatni (2006:37) juga menyatakan bahwa plot memiliki sejumlah kaidah yaitu plausibilitas (kemanasukaan), surprise (kejutan), suspense, unity (ketuhanan). Plot yang merupakan rangkaian peristiwa disusun secara masuk akal meskipun masuk akal di sini tetap dalam kerangka fiksi. Dengan adanya surprise (kejutan) maka rangkaian peristiwa menjadi menarik.
Contoh:“DALANG BERGANTI PERAN DAN MEMAINKAN PERAN HANSIP PENJAGA MALAM”.
Di samping itu kejutan juga berfungsi untuk memperlambat atau mempercepat klimaks. Klimaks tampak pada peristiwa yang tak disangka-sangka.
Contoh:“BERBALIK LALU MEMBANTU AJUDANNYA MEMUKUL LAYAR. BAYANG-BAYANG DI BALIK LAYAR BERJATUHAN. TAPI KEMUDIAN MUNCUL BAYANGAN WAYANG SOSOK RAKSASA. JENDRAL DAN AJUDANNYA TERKEJUT, TAKUT LANGSUNG MENYEMBAH”.
Kejutan tersebut berimplikasi pada jalinan plot selanjutnya yaitu terhadap kejadian berikutnya. Suspense (ketidaktentuan harapan) muncul ketika rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan peristiwa sebelumnya, tiba-tiba dialihkan ke peristiwa lain yang tidak berkaitan, sehingga kelanjutan peristiwa tersebut tertunda dan mengalami ketidaktentuan.

Contoh:Babak pertama menceritan seorang jendral dan ajudannya yang tiba-tiba disegap oleh bayangan wayang raksasa, dialikhan ke peristiwa lain yang tidak berkaitan babak kedua tentang Soekarno dan seseorang membicarakan Indonesia kemudian muncul dalang dan pada akhir babak kedua muncul wayang raksasa lagi yang menyergap si dalang dan muncul jendral beserta ajudannya untuk membantu melepas dalang dari si raksasa.

Wiyatmi (2006:39) menyatakan bahwa rangakian peristiwa yang terdapat dalam sebuah karya dituntut memiliki keutuhan (Iunity). Adanya bagian awal, tengah, dan akhir dalam suatu plot menunjukkan adanya keutuhan tersebut. Secara konkret, gambaran tentang intensitas plot itu terlihat pada saat penikmat dikondisikan ‘terperangkap’ pada berbagai peristiwa sejak pada bagian awal, tengah, dan akhir drama. Penonton akan dibawah merasakan munculnya suatu konflik hingga berbagai konflik dan ikut dalam krisis ke krisis yang lain, baik pada saat ketegangan muncul maupun saat relaksasi.



DAFTAR RUJUKAN


Dewojati, Cahyaningrum. 2010. Drama Sejarah, Teori, dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 
Soemanto, Bakdi. 2001. Jagat Teater. Yogyakarta: Media Pressindo.
Sumarwahyudi. 2011. Filsafat Ilmu Seni. Malang: Pustaka Kaiswaran.
Supriyono. 2011. Tata Rias Panggung. Malang: Bayumedia Publishing.
Tambajong, Japi. 1981. Dasar-dasar Dramaturgi. Bandung: Harapan Bandung.
Wahyuningtyas, Sri, dan Wijaya Heru Santosa. 2011. Sastra: Teori dan Implementasi. Surakarta: Yuma Pustaka.Wariatunnisa,            Alien dan Yulia Hendrilianti. 2010. Seni Teater untuk SMP atau MTs Kelas VII, VIII, dan IX (Rahmawati, Irma dan Ria Novitasari, Ed). Jakarta: Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional.
Wiyanto, Asul. 2005. Kesusastraan Sekolah. Jakarta: Grasindo Anggota Ikapi.



Previous
Next Post »
0 Komentar