Pengertian Drama Dan Sejarah Perkembangan Drama

10:08 PM

Karya sastra merupakan hasil dari proses kreatif seseorang yang biasa disebut sastrawan. Karya sastra juga dapat dipandang sebagai luapan atau curahan perasaan dan pikiran sastrawan sebagai produk imajinasi. Karya sastra ini memiliki berbagai genre, diantaranya ialah puisi, prosa, dan drama, tetapi dramalah yang lebih dekat dengan masyarakat. Marx (1961:1)  mengatakan bahwa of all the art, drama is the closest to the people. No other art depends so much on the human elemen (dari semua karya seni, dramalah yang paling dekat dengan manusia. Tidak ada seni lain yang sangat bergantung pada elemen manusia). Pendapat ini memang benar, karena drama memberikan gambaran secara langsung melalui pertunjukan atau pementasannya sehingga penikmat karya sastra tidak merasa bosan. Sseperti saat menikmati karya sastra dengan genre novel yang terkadang merasa jenuh saat membaca dan jika tidak bisa benar-benar berimajinasi atau menggambarkan dengan baik sesuai dengan jalan cerita maka penikmat karya tersebut tidak akan bisa benar-benar menikmati karya itu. Berbeda halnya dengan drama, tanpa menggambarkan atau berimajinasi bagaimana ceritanya, penikmat drama sudah dapat menikmati karya tersebut walau tetap saja dalam menikmati drama tetap harus fokus. Kebanyakan orang lebih mudah memahami sesuatu apabila mereka dibantu dengan audio dan juga visual, sehingga layaklah kalau drama disebut sebagai karya sastra yang erat dengan masyarakat dan lebih dapat menghibur penikmatnya.

Drama akan terasa lebih indah apabila drama tersebut dipentaskan atau dipertunjukan. Drama menonjolkan percakapan dan gerak-gerik yang tertulis di dalam naskah, sehingga penonton dapat langsung mengikuti jalan cerita, penonton akan dapat langsung menikmati cerita tanpa harus membayangkan bagaimana keadaannya, bagaimana perilakunya, bagaimana melakukan sebuah kegiatan, ataupun hal-hal yang. Pementasan yang dimaksud adalah menampilkan dialog dan gerak-gerik berdasarkan pada naskah drama di atas panggung yang dilakukan oleh para aktor atau pemain drama. Pementasan bukanlah sebuah kegiatan yang mudah, sehingga sebelum melakukan pementasan, seseorang harus faham betul mengenai unsur-unsur drama serta pengertian drama dan pementasan itu sendiri secara jelas, sehingga dapat menampilkan pementasan yang baik dan berhasil menyampaikan maksud dari naskah kepada penonton yang menikmati drama.

Kata drama sudah melekat pada masyarakat. Namun pada kenyataannya banyak masyarakat yang kurang memahami perihal drama, banyak masyarakat yang masih rancu antara drama dan teater, masyarakat tidak mengetahui unsur-unsut drama. Dalam bab ini akan dibahas mengenai pengantar tentang drama. Pengantar drama memberikan penjelasan mengenai pengertian drama dan pementasannya, sejarah drama, perbedaan antara drama dan teater, tujuan drama, perkembangan drama di Indonesia, serta unsur-unsur yang mengikuti drama sehingga dengan adanya pengantar tentang drama ini maka pembaca akan lebih mudah memahami setiap penjabaran yang ada pada bab-bab selanjutnya. Oleh sebab itu, penulis ingin menjabarkan mengenai pengantar tentang drama.


Tujuan
 (1) pengertian drama dan pementasan,
 (2) sejarah drama,
 (3) perbedaan drama dengan teater,
 (4) tujuan drama,
 (5) perkembangan drama di Indonesia, serta
 (6) unsur-unsur drama dan pementasannya.

Pengertian Drama dan Pementasannya
Drama merupakan bagian kecil dari karya sastra, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa drama merupakan gambaran ataupun cerminan dari kehidupan manusia, didalam drama juga terdapat sebuah masalah layaknya kehidupan dalam kenyataan. Lalu apa pengertian dari drama itu sendiri? Menurut Ratna (2009:368), drama merupakan bagian dari prosa, seperti cerpen dan novel. Bakdi Soemanto (2001) dalam bukunya menuliskan bahwa kata drama berasal dari kata Yunani Kuno draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Kata drama juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Wiyanto (2002:3) menyatakan bahwa drama dalam masyarakat memiliki dua arti, yaitu drama dalam arti luas dan drama dalam arti sempit. Dalam arti luas, drama adalah semua bentuk tontonan yang mengandung cerita yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dalam arti sempit, drama adalah kisah hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan ke atas panggung, disajikan dalam bentuk dialog, dan gerak berdasarkan naskah.

Budianta, dkk (2002:95) berpendapat bahwa drama merupakan sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Pendapat ini hampir sama dengan pendapat bahwa drama merupakan karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog (Sudjiman, 1990 dalam Siswanto, 2008:163). Hassanudin (1996:7 dalam Dewojati, 2012:8) mengungkapkan bahwa drama adalah karya yang memiliki dua dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukan.
Pengertian drama sebagai suatu genre sastra lebih terfokus sebagai suatu karya yang lebih berorientasi kepada seni pertunjukan dibandingkan sebagai genre satra. Drama sebagai pertunjukan suatu lakon merupakan tempat pertemuan dari beberapa cabang kesenian yang lain seperti seni sastra, seni peran, seni tari, seni deklamasi, dan tak jarang juga seni suara. Drama adalah satu bentuk seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya.

Akan tetapi, percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action (Soemanto, 2001:3). Drama ialah semua teks yang bersifat dialog-dialog dan yang isinya membentangkan sebuah alur (Luxemburg, Mieke Bal, dan Willem G, 1984:158). Menurut Tarigan (1986), drama adalah seni yang menggarap lakon-lakon mulai sejarah penulisannya hingga pementasannya, selain itu drama juga merupakan hidup yang disajikan dalam gerak. Dari banyak pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa drama merupakan suatu bentuk karya sastra yang berisi kisah hidup manusia mengenai konflik hidup, sikap, dan juga sifat dalam bentuk dialog yang dituangkan di atas panggung dengan menggunakan percakapan dan gerak oleh pemain dihadapan penonton dan pendengar. Drama akan lebih baik kalau dipentaskan. Luxemburg, Mieke Bal, dan Willem G (1982:158) menyatakan bahwa drama berbeda dengan prosa dan puisi karena dimaksudkan untuk dipentaskan. Pementasan itu memberikan kepada drama sebuah penafsiran kedua. Sang sutradara dan para pemain menafsirkan teks, sedangkan para penonton menafsirkan versi yang telah ditafsirkan oleh para pemain, oleh karena itu teks drama berkiblat pada pementasan. Menurut Ratna (2009:369),  drama disajikan dengan menyebutkan para pelaku dan para pemeran lain pada awal dialog dan cerita. Tidak ada drama yang ditulis semata-mata untuk dibaca, drama ditulis dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan untuk dipentaskan. Dewojati (2010:22) berpendapat bahwa sebuah teks drama baru bermakna penuh apabila dipentaskan di atas panggung. Drama yang disebut juga sebagai sastra lakon akan mempunyai makna penuh apabila karya tersebut dipentaskan karena sebuah teks lakon tidak hanya berhenti pada konsep atau simbol-simbol verbal yang berupa jagat kata (a verbal world) seperti pada puisi atau novel, tetapi juga berisi jagat yang seolah-olah bisa terlihat (visual), terdengar (audible), bahkan terasakan (tangible) (Soemanto, 2001:6).

Pementasan merupakan sebuah sintesa dan menghimbau pada beberapa indera sekaligus (Luxemburg, Mieke Bal, dan Willem G, 1982:159). Pementasan ialah dengan menjadi pemain, menampilkan gerak, ataupun unsur-unsur lain yang membangun drama sesuai dengan naskah drama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia pementasan berasal dari kata dasar pentas yang berarti panggung atau lantai yang agak tinggi di gedung pertunjukan tempat memainkan sandiwara, kemudian kata ini mendapat afiks peN-an sehingga menjadi kata pementasan yang berarti proses dari kata dasar pentas tersebut.

Sejarah Drama

Drama sudah ada sejak zaman dahulu. Menurut Soemanto (2001:12) asal-usul drama modern tersebut dapat dirunut melalui sejarah drama Yunani purba. Namun, beberapa pakar sejarah drama berpendapat bahwa sesungguhnya drama tertua bukan berasal dari belahan dunia barat, melainkan berasal dari Mesir. Teks drama yang konon tertua berjudul Abydos Passion Play dan berangka tahun 4000 SM. Dalam teks purba tersebut telah memuat indikasi petunjuk lakon dan berbagai tokohnya. Drama berasal dari drame, sebuah kata Prancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Ada tiga macam teori yang mempersoalkan asal mula drama, yaitu (1) drama berkembang dari upacara religius primitif, (2) drama memberi kesan bahwa himne pujian dinyanyikan bersama di depan makam seseorang pahlawan, maksud di sini ialah pembicara memperagakan kehidupan lama dari almarhum pahlawan itu dan berpisah dari koor, (3) drama tumbuh dari kecintaan manusia untuk bercerita (Soemanto, 2001:15).
Menurut Harymawan (1986:5) sejarah teater di Indonesia adalah sebagai berikut:
(1)       Sebelum abad ke ̶ 20    
Tidak ada naskah dan pentas, yang ada
          hanyalah cerita-cerita lisan yang disampaikan
          dari ayah ke anak. Drama-drama rakyat, istana,
          keagamaan, di lapangan terbuka, atau di arena-
          arena.
(2)       Permulaan abad ke ̶ 20
Pada permulaan abad ke ̶ 20 timbul bentuk-
         bentuk drama baru seperti komedi, tonil, opera,  
         wayang orang, ketoprak, dan juga ludruk. Tidak
         menggunakan naskah tetapi sudah memakai
         pentas dan panggungnya berbingkai.
(3)       Zaman Pujangga Baru
Muncul nakah drama asli yang dipakai oleh
         pementasan amatir. Rombongan profesional
         tidak menggunakannya.
(4)     Zaman Jepang
Pada zaman ini penggunaan naskah sudah
         diharuskan, sehingga rombongan profesional
         terpaksa belajar membaca.
(5)     Zaman kini
Rombongan profesional membuang kembali    
      naskah. Organisasi amatir setia pada naskah,
      sayang sering mengabaikan pengarang,
      penyadur, atau penyalinnya.
Wiyanto (2002:5-6) menuliskan bahwa menurut sejarahnya, lahirnya drama baik di dalam negeri atau di luar negeri bermula dari peristiwa yang sama. Upacara keagamaan yang dilakukan oleh pemuka agama menjadi asal usul adanya drama, mereka menyembah para dewa dengan menyanyikan puji-pujian yang semakin lama semakin berkembang mengikuti perkembangan zaman tidak hanya dengan puji-pujian tatapi juga dengan cerita dan juga doa. Dalam upacara agama, drama dilakukan di lapangan terbuka, penonton duduk melingkar atau membentuk setengah lingkaran, dan upacara dilakukan di tengah lingkarang tersebut (Oemarjati, 1971:15). Lambat laun upacara ini semakin menonjolkan penceritaan, mereka bergerak seseuai yang dibacakan oleh narator di jalan-jalan dan dilihat oleh penonton, jika penonton bubar maka jelaslah bahwa mereka yang iring-iringan memperagakan sebuah cerita itu sudah pergi, inilah awal mula adanya drama di Yunani.

Di Indonesia, upacara-upacara agama bersifat lebih puitis daripada di Barat (Oemarjati, 1971:15). Semakin lama mantra dan doa yang dilakukan pemuka agama ini dengan mengangkat tangan, dan sedikit memberikan gerakan-gerakan yang semakin memperdalam maksud dari mantra. Gerakan-gerakan yang dilakukan ini diiringi dengan alat musik kentongan atau gendang. Dimulai dengan tradisi wayang orang yang tersebar ke luar batas-batas istana hingga ke kota-kota pada akhir abad 19 tepatnya tahun 1901 oleh seorang peranakan Belanda bernama F. Wiggers, berupa sebuah drama satu babak berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Untuk selanjutnya bermunculanlah naskah-naskah drama dalam bahasa Melayu rendah yang kemudian berkembang bentuk-bentuk kesenian daerah seperti topeng, ludruk, dan ketoprak yang sangat populer dan hidup.

Oemarjati (1971:21) dalam bukunya menyatakan bahwa perkembangan ini nampak dengan bermunculannya himpunan-himpunan drama seperti rombongan “Abdoel Moeloek”, “Tjahaja Timoer”, “Dardanella” (teater ini merombak tradisi Komidi Bangsawan), “Bolero”, “Orion”, dan yang paling akhir adalah perkumpulan yang didirikan oleh Andjar Asmara, tangan kanan A. Piedro, pada tahun 1942, semua perkumpulan ini terus berkembang bersamaan teater kecil yang ada di masing-masing daerah. Teater kecil ini memberi keleluasaan bagi tiap sastrawan untuk mendapatkan tempat yang selayaknya. Teater kecil menjadi penampung, penyalur, dan peraga bakat-bakat seni yang ada pada mayarakat saat itu.

Menurut Oemarjati (1971:40) jika digariskan secara umum, kegiatan penulisan yang benar-benar mengkhusus pada bentuk dialog, dimulai seorang Indo yaitu Victor Ido, yang diikuti oleh penulis-penulis China peranakan hingga sampai pada orang-orang Indonesia itu sendiri. Sastra lakon (drama) di Indonesia yang paling awal dan dikenal ialah Bebasari (1926) karya Roestam Effendi, karangan lain diantaranya adalah Ken Arok dan Ken Dedes (Pujangga Baru, 1934) karya Muhammad Yamin, Kertajasa (Timbul, 1932) karya Sanuse Pane, Lukisan Masa (Pujangga Baru, 1937) karya Armijn Pane, Liburan Seniman (1944) karya Usmar Ismail, Kami perempuan (1943) karya Armijn Pane, Dokter Bisma (1945) karya Idrus, Tuan Amin (1945) karya Amal Hamzah, dan lain-lain.
Dari perkembangan yang terus berjalan inilah lahir tontonan drama, semakin lama drama yang sederhana ini semakin berkembang dan menjadi drama yang seperti sekarang ini dengan banyak pemain yang sudah terlatih, tata rias, tata panggung, tata cahaya, maupun unsur artistik yang lainnya sehingga drama yang sekarang semakin indah.


Previous
Next Post »
0 Komentar